May 26, 2008,12:00 AM
Ideal Bagus…. Tapi Realistis Lebih Mak Nyuss...
Ketika berita pernikahanku mulai sampai ke telinga teman-teman, hampir pertanyaan senada mereka lontarkan padaku. “Yakin mau nikah sama dia? Kamu kan belum kenal banget. Apa sih yang membuat kamu pilih dia?” Wajar sekali ketika pertanyaan-pertanyaan tersebut mereka tanyakan padaku. Karena sebelumnya aku memang belum betul-betul mengenal siapa calon suamiku itu.

“Cuma lewat beberapa lembar biodata dan sekali ketemu (ta’aruf) kamu yakin serius sama dia?” Begitu komentar mereka ketika kujelaskan proses nikahku. Kalo mengikuti jalan pemikiran mereka, iya juga sih. Bisa-bisanya cuma lewat biodata plus foto dan sekali ta’aruf langsung yess!!!! Yah… kalo ga berangkat dari rasa percaya pada petunjuk Yang Diatas rasanya memang impossible memutuskan nikah dengan orang yang belum pernah kita kenal atau minimal berinteraksi sebelumnya.

“Terus dia sesuai dengan kriteria kamu nggak?” Pertanyaan itu yang selanjutnya mereka lontarkan. Kalo bicara kriteria, memang semua orang masing-masing punya gambaran pasangan idealnya yang seringkali menuntut kesempurnaan dari segala sisi.

Tapi memang sebuah sunatullah, tidak ada hal yang sempurna di dunia ini. Kadang ada yang punya kelebihan di satu sisi, sementara lemah di sisi yang lain. Kaya tapi malas ibadah, ganteng tapi pencopet dll. Tetapi bukan karena tidak ada yang sempurna akhirnya memilih yang seadanya. Bukan… Bukan itu, tapi REALISTIS. Itulah intinya

Aku coba berfikir realistis bahwa setiap orang punya kelebihan sekaligus kekurangan. Hal itu adalah satu paket yang tidak mungkin dipisahkan. Nah melalui pernikahan itulah aku harus belajar untuk menerima segala yang ada pada suamiku. Itulah yang disebut KESEMPURNAAN, menurut sebuah artikel yang kubaca.

Kemudian ada satu pertanyaan terakhir yang mereka berikan padaku. “Menurut kamu, apakah dia yang terbaik buat kamu?” Ups………… akhirnya ditanyain juga. Dengan mengutip kata-kata seorang aktor di sebuah film aku menjawab dengan yakin, “Mungkin dia bukan yang terbaik, tapi aku sudah memutuskan dia adalah yang terbaik untukku, Insya Allah.”

Peluh yang menitik, pikiran yang terkuras, nafas yang tersengal, hati yang perih atas perjuangan ini, semoga akan selalu berbalut ikhlas dan berhias sabar hingga tak terbatas

 
posted by Syahida
Permalink ¤


0 Comments: