Feb 23, 2008,10:31 AM
Ekspedisi Lawu
“Sekadar aku keluar dari rumah dan apa yang tertangkap oleh mataku, pasti aku melihat bahwa ada nikmat Allah atasku dari apa yang ku lihat. Dan dari sana aku memetik pelajaran untukku” (Abu Sulaiman Ad Darani seorang shalih dari generasi Tabiin). Maka, kami bulatkan tekad untuk menjelajahi Lawu untuk mentafakuri keagungan Allah yang telah menciptakan fenomena alam yang begitu dahsyat dan indah ini.

Tasbih tak henti-henti demi melihat hamparan yang ada di depan kami. Memang benar “sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi”. (Ali Imran:190-191).

Subhanallah begitu cermat Allah menciptakan gunung sebagai pasak-pasak bumi (Q.S. An-Naba 78: 6-7). Jadi bayangkan saja ketika tidak ada gunung sebagai pasak bumi, sama halnya ketika mendirikan tenda tanpa pasak. Apa yang terjadi? Sudah pasti roboh ketika ada angin yang meniupnya. Begitu pula bumi, tidak akan kokoh tanpa gunung sebagai pasaknya. Benar-benar tidak ada satu kesia-siaan ketika Allah menciptakan sesuatu, walau kadang manusia merutuki keberadaannya sebagai pembawa bencana.

Pasak bumi yang menjulang tinggi ini membuat kami merinding. Serasa menjadi sosok-sosok kerdil yang kerap takabur, ujub dan riya’ dengan segala predikat yang melekat pada diri ini. Ini baru gunung yang besarnya belum seberapa dibanding isi jagat raya yang lain. Lihat saja ukuran matahari yang jauh lebih besar satu juta 200 kali dari ukuran bumi. Maka seperberapakah kita dibanding besarnya? Masih cukup besarkah untuk mempertahankan kesombongan kita yang selalu merasa lebih dari yang lain?

 
posted by Syahida
Permalink ¤


0 Comments: