Jan 22, 2007,11:52 AM
Muslimah dalam (Me)Pasung(k)an (Diri)
Membaca sebuah artikel yang ada di portal KAMMI, akhwat manapun pasti akan tergelitik dengan tulisan seorang ikhwan yang menulis tentang fenomena wacana politik di kalangan akhwat. Sebel, mangkel? Pasti. Tapi tahan sebentar. Jangan emosi dulu akhwat. Memang harus diakui fenomena tersebut sedang menggejala di sebagian besar kalangan akhwat. Rata-rata akwat memang gagap kalo diminta berbicara masalah politik, hatta dia adalah akhwat pergerakan berbasis siyasi (???).

Kebanyakan akhwat atau muslimah pada umumnya saat ini terjebak pada pola pikir yang sempit dan parsial. Dengan mengatasnamakan fitrah, mereka membelenggu potensi berpolitik yang sebenarnya bila dikembangkan secara proporsional akan berdampak positif di berbagai lini. Seringkali juga ditemui akhwat yang terbentur pada masalah kompetensi jika diajak berdiskusi masalah politik.

Suatu hal yang sangat disayangkan jika hal ini terus-menerus dipupuk dan dipelihara. Karena menurut Dr Yusuf Qordowi dalam bukunya yang berjudul Ummatuna baina Qornain salah satu kegagalan yang ditemui umat muslim sepanjang abad 20 adalah ketika perempuan dipasung hak-haknya dalam masalah politik. Apalagi dengan ditetapkannya UU PemiluNo 65 tentang quota minimal 30% bagi perempuan semakin membuka kran-kran demokrasi bagi kaum perempuan untuk terjun ke wilayah politik. Pertarungan wacana tentang isu gender akan semakin gencar. Melihat fenomena ini maka pendidikan politik bagi muslimah adalah sebuah keniscayaan dan harus mendapat perhatian serius.

Sebenarnya jika kita menilik peran muslimah sepanjang sejarah kehidupan, justru seharusnya kita patut berbesar hati karena signifikansi peran yang dimiliki. Orang pertama yang masuk Islam adalah seorang perempuan, yaitu Khadijah binti Khuwailid ra. Syuhada pertama dalam jihad Islam adalah Sumayah, seorang muslimah juga. Kemudian seorang wanita yang berjasa menjadi informan rahasia Rasulullah. Walaupun tengah hamil delapan bulan dan harus melewati medan yang sulit ia tetap konsisten dengan tugasnya. Siapa lagi ia selain Asma binti Abubakar yang dijuluki wanita bersabuk dua. Dalam peranan muslimah masa kini kita dapati Zainab al Ghazali pimpinan pusat jamaah Sayyidat Muslimah di Mesir yang mempelopori perjuangan aktivis muslimah melawan pemerintahan Gamal Abdel Naser.

Paradigma bahwa politik itu barang tabu bagi muslimah harus dibabat habis. Sebuah pembahasan dalam Konferensi Khourtum di Sudan menegaskan bahwa partisipasi muslimah dalam politik berakar dari ajaran Islam itu sendiri. Eksistensi manusia di dunia tanpa membedakan gender, didasari oleh alasan dan misi yang sama. Keberadaan muslimah jangan sampai hanya dipandang dari sisi kuantitas saja. Karena muslim dan muslimah memiliki potensi dan peran yang sama. Perjuangan menegakkan amar ma’ruf nahi munkar merupakan kewajiban semua orang baik laki-laki maupun perempuan. Bukankah Imam Hasan al Banna juga mengatakan bahwa belum sempurna iman seorang muslim ketika belum berpolitik?

Jadi akhwati fillah mulai sekarang jangan mau dikatakan sebagai Agassi (Akhwat Gagap Siyasi). Akhwat harus kritis terhadap perkembangan politik yang ada, progressif dalam wacana dan aksi dalam mengambil inisiatif (jangan cuma sepakat saja kalau ditanya) dan proaktif menggerakkan, minimal ibda’ binafsik, dalam rangka amar ma’ruf nahi munkar. Politisi akhwat? WHY NOT!
Wallahu a'lam bish showwab

akhwati fillah ayo wujudkan kegelisahan kita...


Read more!  
posted by Syahida
Permalink ¤ 1 comments
Jan 18, 2007,1:57 PM
Dunia Baru
Pasca lulus kuliah, Alhamdulillah tanpa harus kebingungan harus mencari aktivitas baru, Allah begitu baik memberi saya kesempatan untuk bekerja sebagai staff pendukung pada lembaga pengembangan SDM di sebuah universitas swasta dengan sistem kontrak. Dunia yang terbilang baru buat saya. Sangat berbeda dengan dunia yang sebelumnya pernah saya jalani sebagai mahasiswa dan penggiat dakwah kampus.

Pasca penandatangan kontrak, rasanya seperti menjadi manusia baru. Bisa dibilang begitu, karena mulai saat itu penampilan dan pola pikir saya mulai ada perubahan. Kalau dulu biasanya ngampus bisa pakai kostum seadanya, sekarang performance harus rapi (tapi tetap nyar’i lho). Demikian juga suluk, harus selalu terjaga karena disana ada berbagai karakter orang dengan latar belakang dan pola pikir yang berbeda pula. Etos kerja yang disiplin dan profesional selalu menjadi acuan dalam setiap aktivitas disana. Alhamdulillah semua hal tersebut bisa dilalui tanpa ada kesulitan berarti, walaupun pada awalnya cukup canggung karena hampir 80% partner kerja saya semuanya laki-laki.

Banyak sekali pelajaran penting yang saya temukan disana terutama yang berkaitan dengan pola pikir dan kerja yang sulit ditemukan pada dunia saya yang lainnya, yaitu dunia ikhwah. Semua hal disini mengedepankan logika, profesionalisme dan disiplin. Tidak ada terminologi kayaknya, katanya, atau sejenisnya yang bebas berkeliaran dalam perbendaharaan kata disana. Apalagi unsur dzon atau asas praduga yang biasanya melibatkan perasaan atau subyektifitas orang yang terlibat disana. Harus ada reasoning yang jelas terlebih dahulu atas segala hal. Permintaan maaf atas kesalahan pekerjaan boleh saja, tetapi tidak kemudian menjadi tindakan yang membudaya. Tidak ada kamus menunda pekerjaan, karena semua aktivitas sudah mempunyai deadline masing-masing. Intinya segala sesuatu menuntut profesionalisme dan kedisiplinan.

Profesionalisme dan disiplin. Ya dua mainstream inilah yang sekarang hampir menjadi sebatas jargon saja di kalangan ikhwah. Memang terdengar seperti ungkapan yang apatis walaupun tidak sedikit juga yang mengiyakan karena banyak fakta di lapangan yang membuat orang-orang juga akan menarik kesimpulan yang sama. Bagaimana tidak sepakat kalau pemandangan yang seringkali ditemui adalah program yang hanya cukup puas mandeg di tataran perencanaan karena ketidakdisiplinan pelakunya yang sering menggunakan jurus "afwan" sebagai alibi untuk menutupi tindakan indisiplinernya. Lalu apa jadinya Islam kalo Model Manusia Muslim – meminjam judul buku Anis Matta – nya seperti ini?

Padahal disiplin dan profesional adalah bagian dari militansi seseorang. Keduanya merupakan nilai dan bukti dari manifestasi sebuah teori. Kesuksesan yang diraih oleh individu, ataupun lembaga dan lainnya tidak bisa terlepas dari sikap disiplin dan profesional. Bisa dikatakan bagai pungguk merindukan bulan jika mengharap kesuksesan tanpa harus bersikap disiplin dan profesional.

Profesionalisme dan disiplin atau itqon dan indhibath telah dicontohkan dalam keseluruhan perjuangan Rasulullah SAW, bahkan dalam semua bidang kehidupannya. Hal itu merupakan tuntunan moral dan etika Qur'ani. Beliau selalu memenuhi komitmen (janji) dengan tepat (QS 3: 152; QS 4: 122); dan menegakkan kedisiplinan kerja (QS 24: 51-52; QS 18: 85-89).

Dalam Hadis Riwayat Muslim yang menuturkan sabda Rasulullah SAW : Sesungguhnya Allah mewajibkan ihsan atas segala sesuatu.Ihsan disini dikaitkan dengan profesionalisme seorang muslim yaitu dalam melakukan pekerjaan dengan sebaik mungkin atau dengan kata lain seoptimal mungkin.

Jika seorang muslim teguh menjadikan Allah sebagai terminal akhirnya, ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang hanya sekali dimilikinya. Ia akan menjadikan seluruh aktivitasnya sebagai ibadah yang merupakan proses penghambaan dirinya kepada Allah dan akan mengaktualisasikan tujuan hidupnya dengan mengoptimalkan seluruh kapasitas dirinya untuk meraih kesempurnaan demi memperoleh posisi terbaik di sisi-Nya.

...

Emanuel Kant, seorang ilmuwan nonmuslim memiliki kedisiplinan yang tinggi. Ia pernah dijadikan standar waktu oleh orang-orang di sekitarnya. Apabila ia keluar rumah, semua orang tahu bahwa saat itu jam tujuh pagi. Karena setiap ia keluar rumah, biasanya tepat jam tujuh.

Ikhwah fillah.... Tidakkah hal tersebut menyentil kita? Rasanya tidak cukup jika hanya mengiyakan tanpa membuat suatu perubahan. Allahu a'lam (dari berbagai sumber)


“Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya… Mereka itu kekal di syurga lagi dimuliakan”
(QS Al-Ma’arij 32-35).


Read more!  
posted by Syahida
Permalink ¤ 1 comments
Jan 17, 2007,1:46 PM
Perempuan dan Politik: Bukan Barang Tabu
Cahyadi Takariawan dalam bukunya “Fiqh Politik Perempuan” telah memaparkan beberapa kisah shahabiyah yang merupakan gambaran sebuah konsepsi tentang keterlibatan muslimah dalam blantika publik. Salah satunya adalah Habibah binti Sahl yang merupakan representasi korban “kecelakaan sosiologis” pada zamannya. Habibah kemudian menjadi simbol “perlawanan” terhadap kultur, kendatipun tidak bertentangan vis a vis dengan Islam, tetapi telah melakukan praktik dominasi yang meniadakan hak individu bahkan kesadaran aktifnya sebagai manusia merdeka.

Tapi satu hal yang harus dipahami, Habibah tidak berdiri diatas term-term liberalisasi, emansipasi, ataupun keadilan gender seperti yang sekarang ini sering digaungkan kaum feminis, tetapi lebih dalam rangka mengapresiasi “kerangka kolaborasi penemuan jati diri”, seperti yang dilakukan oleh shahabiyah lainnya.

Demi menemui fenomena ini Rasulullah SAW tidak bersikap antipati dan langsung memberangus apresiasi yang dilakukan oleh para shahabiyah. Beliau justru melibatkan mereka dalam urusan kedaulatan pemerintahan. Muslim dan muslimah memiliki kesempatan sama untuk berpartisipasi aktif membela kebenaran dan menegakkan supremasi daulah. Beliau juga tidak pernah menolak keterlibatan muslimah dalam berbagai macam peperangan, untuk berbagai peran yang mungkin mereka lakukan. Sebagaimana Ar Rubayy' binti Mu'awwidz pernah menuturkan, "Kami pernah bersama Nabi SAW dalam peperangan. Kami bertugas memberi minum prajurit, melayani mereka, mengobati orang terluka, serta mengantarkan orang terluka dan terbunuh ke Madinah."(Riwayat Bukhari).

Tetapi sayang hal ini tidak setali tiga uang dengan fenomena yang terjadi saat ini. Seiring bergulirnya zaman, berbeda pula konsepsi yang dipahami oleh manusianya. Banyak pemikiran muncul yang kemudian melibas praktek keterlibatan perempuan dalam wilayah publik. Sang ilmuwan ternama, Aristoteles pernah mengatakan perempuan itu makhluk yang tidak punya otak, jadi tidak bisa diajak berpikir. Socrates pun melontarkan bahwa perempuan adalah sumber besar dari kekacauan dan perpecahan di dunia. Ada juga kultur sebuah daerah yang menyatakan bahwa fungsi perempuan itu cuma 3 masak, macak dan manak (masak, berdandan dan melahirkan), area untuk beraktualisasinya hanya di sumur, dapur dan kasur, dan jabatan seorang istri hanya sebatas konco wingking (teman di belakang). Pemikiran ini kemudian mulai meluas ke berbagai pihak yang mengakibatkan terhambatnya akses untuk perempuan dalam berbagai hal, terutama wilayah publik. Mereka kehilangan hak suara, hak pendidikan, mengalami diskriminasi pelayanan publik dan akses informasi dll.

Karena doktrin ini sedemikian mengakar dan mendarah daging, obyek penderitanya – dalam hal ini perempuan – pun latah mengamininya. Terlanjur basah mandi sekalian, kata pepatah. Hal inilah yang kemudian melahirkan gerakan feminis yang sangat ingin menyejajarkan kedudukan antara kaum laki-laki dan perempuan dalam segala hal. Sekalipun apa yang mereka perjuangkan seringkali bergesekan dengan sunatullah sebagai perempuan, tetapi mereka tetap bertahan dengan perjuangan mereka. Sementara di lain pihak, kaum laki-laki yang sepaham dengan Aristoteles pun semakin melegalkan dominasi mereka atas kaum perempuan.

Berkenaan dengan hal ini Dr. Yusuf Qordawi kemudian menjelaskan, "barang siapa yang merenungkan Al Quran dan pembicaraanya mengenai perempuan dalam berbagai masa dalam kehidupan para Nabi dan Rasul, maka tak akan terasa adanya tirai besi sebagaimana yang dibuat oleh sebagian manusia antara laki-laki dan perempuan." Beliau juga menambahkan, “perempuan bukanlah orang yang dipenjara, bukan pula orang yang terisolir, sebagaiman hal itu pernah terjadi pada masa-masa kemunduran umat Islam." Inilah jawaban gamblang dari tuntutan para feminis dan peringatan untuk kaum laki-laki pendominasi.

Selanjutnya terkait dengan kepemimpinan perempuan, Dr. Yusuf Qordhowi berpendapat bahwa kepemimpinan kaum laki-laki atas kaum perempuan lebih cenderung kepada permasalahan kehidupan dalam keluarga. Adapun kepemimpinan sebagian perempuan atas sebagian laki-laki diluar lingkup keluarga, tidak ada nash yang melarangnya. Dalam hal ini, yang dilarang adalah kepemimpinan umum seorang perempuan atas kaum laki-laki. Senada dengan Qordhowi, Salim Ali Al Bahnasawi' berpendapat bahwa kepemimpinan umum tidak dibolehkan berada di tangan perempuan. Semua ulama' berpendapat demikian. Dengan kata lain perempuan tidak dapat memegang posisi al imamah al kubra yaitu tidak dapat menjadi khalifah umat Islam.

Walaupun kepemimpinan umum tidak boleh berada di tangan perempuan, tetapi bukan berarti kemudian mereka harus cuci tangan dari wilayah politik. Ini adalah pemahaman yang keliru. Hal ini disinggung dalam firman Allah: "Dan orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan sebagian dari mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh mengerjakan yang ma';ruf dan mencegah dari yang munkar." (At Taubah:71). Syaikh Rasyid Ridha berkomentar, "Dalam ayat tersebut terdapat kewajiban untuk melaksanakan amar ma'ruf nahi munkar bagi laki-laki dan perempuan mu'min, baik berbentuk lisan maupun tulisan, termasuk di dalamnya mengkritik penguasa seperti khalifah, raja, a.mir dan bawahan mereka. Perempuan-perempuan pada zaman dahulu mengetahui hal ini sekaligus mengamalkannya.

Kemudian perempuan harus melaksanakan apa-apa yang dianggap fardhu kifayah dalam aktivitas sosial dan politik yang kadang dianggap fardhu seperti, pertama kerjasama antara laki-laki dan perempuan untuk menjamin penguasa berbuat adil dan benar, misalnya dengan memilih unsur yang patut dalam dewan legislatif, organisasi, atau menjadi pihak yang dipilih untuk menjadi wakil rakyat. Kedua, menjadi partisan partai atau orsospol yang bersih, membantu pihak penguasa melakukan perbaikan integral berdasarkan prinsip Islam di satu sisi, dan menguasai berbagai eksperimen dan disiplin ilmu modern di sisi lain. Ketiga, membudayakan kesadaran politik di kalangan perempuan, khususnya pada saat pemilu.

Selanjutnya tugas perempuan adalah memberi pembekalan kepada anak-anaknya, pengetahuan-pengetahuan dasar mengenai kondisi sosio politis dan penumbuhan rasa kepedulian mereka terhadap masalah-masalah tersebut, termasuk penyadaran akan peran yang wajib mereka lakukan dalam bidang sospol. Karena dalam modernitas pembahasan politik dewasa ini, keluarga telah mulai mendapatkan perhatian sebagai institusi pendidikan politik pertama bagi anak-anak. Jadi, perempuan memiliki signifikansi peran untuk memerankan fungsi pendidikan sospol dalam rumah tangga.

Dalam penutup tulisannya, Cahyadi Takariawan menyimpulkan bahwa tidak ada satu nash pun dalam Islam tentang sterilisasi peran muslimah dalam kegiatan dakwah, amar ma'ruf, nahi munkar, ataupun dalam kancah publik secara umum. Islam justru telah memberikan hak sosial, politik, dan ekonomi pada perempuan. Sungguh suatu hak dan penghormatan yang belum pernah diberikan oleh ideologi manapun kepada perempuan selain Islam.

Sejalan dengan pendapat beliau, penulis berpendapat tidak ada alasan untuk perempuan terlebih lagi muslimah, untuk tidak beraktualisasi dalam wilayah publik, tak terkecuali politik. Karena politik juga merupakan bagian dari syumuliyatul Islam. Maka, salah jika ada yang mengatakan bahwa politik itu hal yang tabu untuk muslimah. Dan pastinya kita pun amat mahfum bahwa untuk dapat mendapatkan kualifikasi sebagai muslim kaffah, tidak ada satu syari’at-pun yang boleh tertolak dalam hati atau absen dalam aktivitas seorang muslim. Wallahu a’lam bish showwab.

Maraji’:

Fiqh Politik Perempuan, Cahyadi Takariawan

Sirah Shahabiyah, Mahmud al Mishri

Keakhwatan 1, Cahyadi Takariawan

Matinya Perempuan, Asghar Ali Engineer

Read more!  
posted by Syahida
Permalink ¤ 0 comments
Jan 3, 2007,10:26 AM
Testimoni Awal Tahun
Mengapa diri ini masih saja terlena dengan maksiat "padahal sesungguhnya ada malaikat-malaikat) yang mengawasi dan yang mencatat pekerjaan-pekerjaanku, mereka mengetahui apa yang aku kerjakan" (Al Infithar:10-12)

Mengapa diri ini masih saja berusaha mencari pembenaran dari segala alpa padahal "Dia mengetahui apa yang dilahirkan dan dirahasiakan" (Al Mulk: 13-14)

Mengapa penyesalan dan pengandaian selalu saja hadir dalam diri padahal "Allah tidak akan mengubah nasib kaum sebelum mereka sendiri mau mengubah keadaan dalam jiwa mereka" (Ar Ra'd:11)

Mengapa diri ini masih saja sulit melangkahkan kaki untuk beramal padahal "Berangkatlah baik dalam keadaan ringan atau merasa berat" (Al Bara'ah: 41)

Mengapa diri ini masih saja percaya diri melenggang dengan amal yang serba pas-pasan yang ditambah dengan keluhan dan gerutuan padahal "Dia akan mengujiku, agar diketahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara umatnya, agar dapat ditetapkan baik buruknya" (Muhammad:31)

Mengapa...
Mengapa...
Terlalu banyak mengapa akan apa yang sudah kuperbuat

Mungkin aku lupa bahwa "tiap-tiap manusia telah ditetapkan amal perbuatannya, dan pada hari kiamat akan dikeluarkan bagi kita sebuah kitab yang akan menjadi penghisab bagi diri kita" (Al Isra: 13-14)


Yaa Rabbul 'Izzati dan Rasulullah yang mulia
Pengakuan ini hamba lakukan dengan rasa malu yang dalam
karena diri ini masih saja terpikat pada dunia dan takut akan kematian

Read more!  
posted by Syahida
Permalink ¤ 0 comments