May 10, 2007,12:48 PM
Berkejaran dengan waktu
Setiap orang yang hidup menempati dunia yang sama dan mempunyai jatah waktu yang sama, entah dia seorang ahli surga atau neraka, orang sukses atau gagal, kaya atau miskin. Sama-sama hanya mempunyai jatah 24 jam setiap harinya. Tetapi satu hal yang membuatnya berbeda adalah bagaimana penghargaan masing-masing terhadap waktu dan bagaimana cara memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya.

Contoh kecil, ketika akan diadakan acara di suatu tempat, sambil menunggu pembicara datang, ada yang berdzikir, ada yang tilawah, ada yang melamun sambil terkantuk-kantuk, dan ada juga yang ngobrol. Jumlah waktu yang dihabiskan sama, tapi hasilnya jauh berbeda.

Rasulullah SAW pernah mengatakan rata-rata umur manusia sekitar 60 tahun. Kemudian Imam Ghazali mengatakan kalau manusia yang umurnya 60 tahun dan memiliki waktu tidur selama 8 jam/hari maka sesungguhnya dia hidup cuma 40 tahun saja, karena 1/3 alias 20 tahun waktunya sudah hilang untuk tidur. Itulah kebanyakan manusia. Waktu yang tidak mungkin bisa diulang, hanya dihabiskan untuk memenuhi kesenangannya saja.

Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW mengatakan: sebaik-baik manusia adalah orang yang panjang usianya dan bagus amal perbuatannya. Seburuk-buruk manusia adalah orang yang panjang usianya dan buruk amal perbuatannya. (HR Ahmad). Bayangkan jika jenis manusia yang kedua itu adalah kita. Maka bekal apakah yang akan kita bawa untuk dihisab di akhirat kelak?

Belum hilang dari ingatan kita tentang musibah yang belakangan ini terjadi secara tiba-tiba. Bukan suatu hal mustahil ketika gempa atau banjir datang, pada saat itu juga Allah berkehendak mencabut nyawa kita. Maka akankah kita berakhir dalam keadaan khusnul khotimah atau su’ul khotimah? Sementara kita tidak tahu apakah saat itu kita sedang melakukan kebaikan ataukah kemaksiatan. Padahal Rasulullah telah bersabda: "Setiap orang akan mati seperti dalam keadaan hidupnya dan akan dibangkitkan seperti dalam keadaan matinya" (HR Muslim)

Benar-benar tak ada yang bisa memprediksi kapan maut datang menjemput, karena maut tak ubahnya seperti tamu yang tak diundang. Datang begitu saja tanpa memberi kabar. Tak ada proses tawar menawar atau tarik ulur. Begitu sang penjemput jiwa datang, tak ada hal yang bisa diperbuat. Raga meregang, nyawa pun terbang.

Tapi sepertinya memang sudah menjadi watak khas manusia. Musibah datang, taubat massal pun ramai-ramai digelar. Musibah lewat, taubat pun disimpan rapat-rapat (mungkin untuk persediaan kalau ada musibah susulan). Kita kembali disibukkan oleh urusan duniawi. Karena kita sudah sedemikian mahfum bagaimana cara menghabiskan waktu dengan kesibukan ala hedonisme dan konsumerisme sebagai anak kandung peradaban materi yang makin tidak manusiawi.

Tampaknya kita terlalu lupa bahwa hidup berkejaran dengan waktu. Terlalu lupa kalau hidup adalah waktu itu sendiri. Bukankah Allah telah berulangkali bersumpah di dalam al-Qur'an atas nama waktu: wal Ashr (demi masa), wadh dhuha (demi dhuha), wal laili (demi malam), wan nahaar (demi siang). Karena memang waktu memegang peranan penting dalam perjalanan hidup makhluk seperti kita ini. Benar-benar sangat merugi manusia kecuali mereka yang beramal shalih dan saling menasehati dalam kebenaran dan kebaikan.

Rasanya kita bukan siapa-siapa dibanding generasi awal dulu. Waktu mereka lewat tanpa sedikitpun kesia-siaan. Rasulullah yang dijamin diampuni kesalahnnya yang terdahulu dan akan datang saja masih terus bersujud meratap di sepertiga malamnya sampai kakinya bengkak-bengkak. Sholahuddin Al Ayyubi tak pernah tertawa karena Palestina belum terbebaskan. “Sesungguhnya orang-orang shalih dapat menghela nafas dirinya kepada kebaikan secara suka rela, sementara kita tidak dapat menghela diri kita kecuali setelah memaksanya” (Ibnul Mubarak).

Bisa jadi kita mulai menjadi generasi-generasi kapitalis yang ingin mendapatkan output yang sebesar-besarnya, dengan input yang seminimal mungkin. Menginginkan masuk surga dengan pegorbanan yang sedikit, dengan amalan yang yang tidak seberapa dan keikhlasan yang serba pas-pasan. Rasulullah
bersabda, "Generasi awal sukses karena zuhud dan teguhnya keyakinan, sedang ummat terakhir hancur karena kikir dan banyak berangan muluk kepada Allah." Wallahu a'lam

Renungan jelang milad




 
posted by Syahida
Permalink ¤


4 Comments:


  • At 8:58 PM, Anonymous hanafi

    Masya Allah.. fikir dan risau agama yang baik.. Semoga Allah memberikan karunia atas fikir tersebut ya.. insya Allah..

     
  • At 5:41 PM, Blogger catur catriks

    salam ukhuwah Ukhti.

    pemikiran yg bagus, saya kira.
    waktu, ehmmm, saya akui begitu banyak kerugian yg saya alami akibat kurang pandainya saya memenej.

    bila ada orang yg mengenal percepatan, maka saya tidak.
    saya selalu mengisi waktu sprti orang kebanyakan.

    terlalu sering terkapar kelelahan di saat pekerjaan dan waktu belajar masih menunggu.

    memang selalu ada usaha, tapi tetap waktu terus meluncur meninggalkan kesempatan yang tidak kita genggam sebelumnya.

    ciptakan niat dan segerakan amal
    semangat!

     
  • At 1:39 AM, Anonymous Cahaya

    emm ya.. jika kita tidak disibukkan dengan kebaikan.. pasti disibukkan dengan keburukan..

    bergeraklah

     
  • At 9:04 PM, Anonymous kief_faiz

    Assalamualaikum.
    Sebenarnya waktu adalah makhluk Allah yang dalam hal merupakan ujian bagi manusia. Apakah kita sanggup menjadi penakluk waktu dan kemudian menjadi hamba Allah yang 'BERUNTUNG'
    Sehingga dapat mengecapi indahnya reward paling mahal, STYURGA.
    Silahkan silaturahim ke blog ane kief313,blogspot