Mar 30, 2007,9:32 AM
Arsitek Kematian Yang Agung
"Orang terhormat akan memilih cara kematian yang dia cintai untuk berjumpa dengan Allah, karena akhir kesudahan seorang manusia pasti akan datang juga
selama Allah telah mentakdirkan"

(Yahya Ayyasy)

SYAHID di jalan Allah. Suatu cita-cita tertinggi yang tak asing terlontar dari setiap kaum muslimin. Tetapi menjadi SYUHADA yang sebenarnya tidak semudah seperti ketika membalikkan telapak tangan.

Gelar syuhada hanya pantas dianugerahkan pada mereka yang mampu mengalahkan tarikan syahwat duniawi untuk mengejar keridhaan Rabb-nya. Anfus wa amwal telah mereka persembahkan demi menebus keabadian yang Allah janjikan dalam jannah-Nya. Mereka adalah barisan manusia yang saat diseru berjihad, bersegera memenuhi tanpa ada ragu sedikitpun. Tak ada rasa takut mati dan cinta dunia atau futur dalam perjalanan hidupnya. Mereka bukan tipe pencari selamat yang bersembunyi di balik ketiak thagut durjana.

Kalau saja ingin mencari selamat, maka Imam Hasan al Banna tidak akan mengutip syair Ali bin Abu Thalib, “kalau hari kematianku telah datang, bagaimana aku bisa lari dari kematian itu, hari ketika telah ditakdirkan untuk tidak bisa atau bisa, hari yang ditakdirkan intu tidak aku takuti, karena yang ditakdirkan mati, tidaklah selamat dari kepastiannya” dan menemui Rabb-nya dengan tetesan darah yang tak berhenti mengalir karena tujuh peluru yang bersarang di tubuhnya.

Kalau saja beliau seorang penakut, maka Syaikh Farghali tidak akan mengatakan “demi Allah aku bercita-cita ingin mati syahid di tangan seorang thagut sehingga bisa masuk surga, sementara pembunuhku melenggang masuk neraka” dan menemui Rabb-nya dengan senyuman di bibir karena meraih medali kesyahidan di tiang gantungan.

Kalau saja beliau seorang pengecut, maka Syaikh Ahmad Yasin akan menghindar dari shalat di masjid, yang akhirnya menyebabkan kesyahidan setelah peluru kendali Israel meluluhkan tubuhnya dalam keadaan berwudhu, ruku’, dan sujud serta seulas senyum keridhaan akan kematiannya ini.

Kalau saja beliau seorang yang apatis, maka Al Muhandis Yahya Ayyas tidak akan mau terus-menerus hidup selama empat tahun dalam masa perburuan oleh aparat zionis dan menemui Rabb-nya dengan tubuh hancur berkeping-keping karena bom waktu

Kalau saja beliau seorang yang oportunis, maka Imad Husein atau Imad Aql akan dengan mudah menerima tawaran Yitzak Rabin untuk meninggalkan bumi perjuangan Palestina dengan jaminan keselamatan daripada harus menemui Rabb-nya dengan tubuh hancur penuh tembakan peluru dan tusukan bayonet yang bertubi-tubi dari tentara zionis.

Kalau saja beliau seorang yang cintanya kepada anak dan suami melebihi kecintaannya kepada Allah, maka Reema ar Riyashi tidak akan rela meninggalkan mereka sang belahan jiwa dan pergi menemui Rabb-nya dengan tubuh hancur lebur tak berbentuk.

Subhanallah, sungguh mereka adalah arsitek kematian yang agung. Mereka memilih cara tersendiri yang indah untuk menemui Allah, Sang Pemilik Jiwa. Mereka tidak gentar walaupun ancaman musuh menekan diri dan keluarga. Karena mereka tahu dunia hanya tempat persinggahan sementara. Tidak ada yang abadi. Semua hanya titipan sementara dari Allah.

Walaupun satu persatu mereka berguguran tetapi, kullama ghaba kaukabun thala’a kaukabun akhar. Setiap kali terbenam bintang yang satu, akan segera muncul bintang yang lain. Satu mujahid gugur, maka akan segera muncul para mujahid lain, yang sedang menunggu dan tidak mengubah janjinya sedikitpun untuk menjadi seorang syuhada.

akan senantiasa ada sekelompok umatku yang konsisten memperjuangkan al-haq, mereka tidak pernah surut kendati seberat apapun rintangan yang dibuat oleh pihak-pihak yang ingin menghinakan mereka, sampai datang keputusan Allah,
mereka tetap teguh dengan komitmennya
(HR. Muslim dan Imam Ahmad)


“Mozaik Syuhada Ikhwanul Muslimin” Prof. Yusuf al Wa’iy

 
posted by Syahida
Permalink ¤