Feb 21, 2007,12:59 PM
Ittaqullaah...
Prolog

Ada cerita seorang ustadz bersama dengan tiga santrinya di sebuah pesantren. Sang ustadz menugaskan mereka, masing-masing untuk menyembunyikan seekor ayam di sebuah tempat yang tidak akan mungkin terlihat oleh siapapun.

Setelah masing-masing mendapat seekor ayam, mereka bergegas melaksanakan perintah sang ustadz dengan waktu yang telah ditetapkan. Mereka bertiga mencari tempat yang menurut mereka tidak akan mungkin diketahui siapapun untuk menyembunyikan ayamnya.

Waktu habis, sang ustadz pun memanggil ketiga orang santrinya untuk menghadap dan melaporkan tugasnya. Santri pertama dan kedua pulang dengan tangan kosong, sementara santri ketiga masih membawa ayamnya. Sang ustadz kemudian bertanya “bagaimana sudahkah kalian melaksanakan perintahku?” “Sudah ustadz, ayam sudah saya sembunyikan di tempat yang tidak mungkin diketahui siapapun”, ujar santri pertama dengan senyum penuh kemenangan. Begitu pun santri kedua senada dengan santri pertama.

Kemudian beliau bertanya kepada santri ketiga. “Bagaimana dengan kamu?” Sambil menahan sesak di dadanya santri ketiga mengatakan “maaf ustadz saya gagal melaksanakan perintah ustadz”. “Kedua temanmu berhasil mengapa kau gagal?” tanya sang ustadz. Dengan sesak yang mulai terlihat nyata di matanya si santri menjawab “saya sudah berusaha untuk menyembunyikan ayam ini ke seluruh tempat yang paling tersembunyi sekalipun, tapi saya tetap gagal. Karena dimana pun saya menyembunyikan ayam ini, Allah tetap akan mengetahuinya.” (unknown source)

Disengaja atau tidak, kadang kita seringkali lupa bahwa Allah senantiasa mengawasi kita. Tahu akan segala tindak tanduk kita, hatta baru sekedar niat yang tersembunyi dalam hati yang paling dalam sekalipun. Karena “wa asirruu qau lakum awijharuu bihi” ditutupi atau diberitakan sekalipun, “innahuu ‘aliimun bi dzaati ashshuduur” Dia Maha Mengetahui segala isi hati (QS Al Mulk: 13).

Seringkali karena iman yang lemah, syetan menerobos benteng pertahanan kita. Begitu kita lengah, syetan pun dengan sigap akan segera melancarkan jurus mautnya. Dan dengan mudah kita akan menuruti nafsu sesatnya. Akhirnya bermunculanlah berbagai virus berbahaya yang dapat menyerang software obyeknya. Riya, ujub, futur, dusta dan virus lainnya yang semakin canggih dan susah dicari anti virusnya yang membuat sang obyek tak ubahnya seperti seorang mayat hidup. Ujuduhu ka'adamihi.

Sebuah alasan logis mengapa Rasulullah sampai mengatakan “ittaqullaaha khaitsumaa kunta” bertakwalah kepada Allah dimanapun kita berada. Karena dimanapun, dalam situasi dan kondisi apapun, sendiri atau berkumpul, saat senang atau susah, keimanan kita akan terus dipantau Allah.

Saat sendiri kita akan diuji, apakah kita benar-benar mencintai Allah dengan setulus hati, hanya takut kepada-Nya, atau hanya berpura-pura bertakwa kepada-Nya. Yang tadinya beriman bisa saja langsung menjadi jahil bahkan kafir dengan alasan “Ah… tidak ada yang melihat.” Atau mungkin dalam situasi yang ramai orang, maka kita akan kembali diuji. Apakah semua tujuan kita benar-benar “ilallaah” atau ada kepentingan lain yang sedang bermain dalam diri kita.

Cobalah kita jujur pada diri kita sendiri. Sejauh mana keimanan yang ada pada diri kita. Sanggupkah pada situasi dan kondisi apapun kita akan seperti Rasulullah yang mengatakan “Wallahi, ya 'ammu lau wadha 'us syamsa fii yamini wal qamara fii yasari 'ala an atruka hadzal amra maa taraktuhu hatta yazh-harahullahu au ahluka dunahu" demi Allah, wahai pamanku, seandainya mereka meletakkan matahari di kananku dan rembulan di kiriku agar aku meninggalkan dakwah, niscaya aku tidak akan meninggalkan perkara ini (dakwah Islam) sebelum Allah memenangkannya atau semuanya akan binasa.

Wallaahu a’lam bishshawwab

 
posted by Syahida
Permalink ¤


0 Comments: