Jan 18, 2007,1:57 PM
Dunia Baru
Pasca lulus kuliah, Alhamdulillah tanpa harus kebingungan harus mencari aktivitas baru, Allah begitu baik memberi saya kesempatan untuk bekerja sebagai staff pendukung pada lembaga pengembangan SDM di sebuah universitas swasta dengan sistem kontrak. Dunia yang terbilang baru buat saya. Sangat berbeda dengan dunia yang sebelumnya pernah saya jalani sebagai mahasiswa dan penggiat dakwah kampus.

Pasca penandatangan kontrak, rasanya seperti menjadi manusia baru. Bisa dibilang begitu, karena mulai saat itu penampilan dan pola pikir saya mulai ada perubahan. Kalau dulu biasanya ngampus bisa pakai kostum seadanya, sekarang performance harus rapi (tapi tetap nyar’i lho). Demikian juga suluk, harus selalu terjaga karena disana ada berbagai karakter orang dengan latar belakang dan pola pikir yang berbeda pula. Etos kerja yang disiplin dan profesional selalu menjadi acuan dalam setiap aktivitas disana. Alhamdulillah semua hal tersebut bisa dilalui tanpa ada kesulitan berarti, walaupun pada awalnya cukup canggung karena hampir 80% partner kerja saya semuanya laki-laki.

Banyak sekali pelajaran penting yang saya temukan disana terutama yang berkaitan dengan pola pikir dan kerja yang sulit ditemukan pada dunia saya yang lainnya, yaitu dunia ikhwah. Semua hal disini mengedepankan logika, profesionalisme dan disiplin. Tidak ada terminologi kayaknya, katanya, atau sejenisnya yang bebas berkeliaran dalam perbendaharaan kata disana. Apalagi unsur dzon atau asas praduga yang biasanya melibatkan perasaan atau subyektifitas orang yang terlibat disana. Harus ada reasoning yang jelas terlebih dahulu atas segala hal. Permintaan maaf atas kesalahan pekerjaan boleh saja, tetapi tidak kemudian menjadi tindakan yang membudaya. Tidak ada kamus menunda pekerjaan, karena semua aktivitas sudah mempunyai deadline masing-masing. Intinya segala sesuatu menuntut profesionalisme dan kedisiplinan.

Profesionalisme dan disiplin. Ya dua mainstream inilah yang sekarang hampir menjadi sebatas jargon saja di kalangan ikhwah. Memang terdengar seperti ungkapan yang apatis walaupun tidak sedikit juga yang mengiyakan karena banyak fakta di lapangan yang membuat orang-orang juga akan menarik kesimpulan yang sama. Bagaimana tidak sepakat kalau pemandangan yang seringkali ditemui adalah program yang hanya cukup puas mandeg di tataran perencanaan karena ketidakdisiplinan pelakunya yang sering menggunakan jurus "afwan" sebagai alibi untuk menutupi tindakan indisiplinernya. Lalu apa jadinya Islam kalo Model Manusia Muslim – meminjam judul buku Anis Matta – nya seperti ini?

Padahal disiplin dan profesional adalah bagian dari militansi seseorang. Keduanya merupakan nilai dan bukti dari manifestasi sebuah teori. Kesuksesan yang diraih oleh individu, ataupun lembaga dan lainnya tidak bisa terlepas dari sikap disiplin dan profesional. Bisa dikatakan bagai pungguk merindukan bulan jika mengharap kesuksesan tanpa harus bersikap disiplin dan profesional.

Profesionalisme dan disiplin atau itqon dan indhibath telah dicontohkan dalam keseluruhan perjuangan Rasulullah SAW, bahkan dalam semua bidang kehidupannya. Hal itu merupakan tuntunan moral dan etika Qur'ani. Beliau selalu memenuhi komitmen (janji) dengan tepat (QS 3: 152; QS 4: 122); dan menegakkan kedisiplinan kerja (QS 24: 51-52; QS 18: 85-89).

Dalam Hadis Riwayat Muslim yang menuturkan sabda Rasulullah SAW : Sesungguhnya Allah mewajibkan ihsan atas segala sesuatu.Ihsan disini dikaitkan dengan profesionalisme seorang muslim yaitu dalam melakukan pekerjaan dengan sebaik mungkin atau dengan kata lain seoptimal mungkin.

Jika seorang muslim teguh menjadikan Allah sebagai terminal akhirnya, ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang hanya sekali dimilikinya. Ia akan menjadikan seluruh aktivitasnya sebagai ibadah yang merupakan proses penghambaan dirinya kepada Allah dan akan mengaktualisasikan tujuan hidupnya dengan mengoptimalkan seluruh kapasitas dirinya untuk meraih kesempurnaan demi memperoleh posisi terbaik di sisi-Nya.

...

Emanuel Kant, seorang ilmuwan nonmuslim memiliki kedisiplinan yang tinggi. Ia pernah dijadikan standar waktu oleh orang-orang di sekitarnya. Apabila ia keluar rumah, semua orang tahu bahwa saat itu jam tujuh pagi. Karena setiap ia keluar rumah, biasanya tepat jam tujuh.

Ikhwah fillah.... Tidakkah hal tersebut menyentil kita? Rasanya tidak cukup jika hanya mengiyakan tanpa membuat suatu perubahan. Allahu a'lam (dari berbagai sumber)


“Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya… Mereka itu kekal di syurga lagi dimuliakan”
(QS Al-Ma’arij 32-35).

 
posted by Syahida
Permalink ¤


1 Comments: