Dec 30, 2006,8:42 AM
Muslim Negarawan: Wacana atau Impian?
Prolog

Dahulu kala di negeri antah berantah, ada seorang Arab yang ingin mengunjungi temannya di suatu kota yang sangat jauh letaknya dari kota si orang Arab. Orang Arab ini sangat amat miskin. Ia bahkan terlalu miskin untuk menempuh sebagian saja dari perjalanan yang pastinya memakan biaya besar. Akhirnya ia memutuskan untuk berjalan kaki menuju kota sang teman.

Perjalanan ini memakan waktu berminggu-minggu karena ia harus melintas padang pasir, naik turun gunung dan menyeberang beberapa sungai. Akhirnya, dengan kaki yang melepuh dan badan yang sangat letih, sampailah juga ia ke rumah sang teman. Sambutan hangat, rindu bercampur dengan rasa heran sang teman. “Bagaimana kau dapat menempuh perjalanan sejauh ini?” Si orang Arab memberinya jawaban sederhana “Aku memulainya.” (unknown author)

Kisah datar ini memberikan inspirasi yang sangat kuat bagi penulis untuk berpikir tentang manifestasi konsep Muslim Negarawan. Konsep yang sangat ideal. Secara teori mampu menjadi solusi bagi degradasi moral yang tidak pandang bulu melanda semua kalangan (contoh kasus: DPR Gate dan PNS Gate).

Namun jika hal ini coba dikomparasikan dengan kualitas kader KAMMI sekarang, wajar jika penulis lebih memilih opsi ragu demi melihat realita yang ada. Maka dari itu cerita diatas seharusnya menjadi inspirator besar bagi kader-kader KAMMI untuk mulai mewujudkan konsep tersebut. Ibda’ binafsik begitu kata pepatah.

Memang diskursus seputar Muslim negarawan saat ini menjadi primadona dalam wacana internal KAMMI. Dari satu bahasan ke bahasan lainnya tidak jauh-jauh dari membicarakan topik ini. Yah butuh waktu yang sangat panjang untuk menginternalisasikan nilai-nilai muslim negarawan pada jiwa-jiwa kader. Dari sekedar wacana teoritis menjadi sebuah aplikasi praktis. Sampai kapan? Entah setahun, dua tahun atau bertahun-tahun nilai tersebut memanusia dalam diri kader.

Dalam Risalah Kaderisasi Manhaj 1427 H KAMMI, dinyatakan bahwa Kader KAMMI harus mempunyai 39 citra kader yang merupakan kualitas khas. Subhanallah 39! Belum lagi kader harus memenuhi kompetensi dasar kader KAMMI sebanyak 65 point. Apalagi (lagi) genap disempurnakan dengan Grand Design Manhaj Kaderisasi 1427 H dengan profil Muslim Negarawan. Tidak perlu ditulis. Kita bayangkan saja bersama. Selintas bayangan Insan Syamil Mutakamil Jiddan pun tergambar dalam benak penulis. Pesimis? Tentu tidak. Hanya sekedar penyentil sebagai tanda peringatan bagi orang yang melamun agar kakinya tetap berpijak di bumi meskipun pemikirannya melangit.

Dalam Grand Design dijabarkan mengenai siapa yang dimaksud dengan Muslim Negarwan. Muslim Negarawan adalah kader KAMMI yang memiliki basis ideologi Islam yang mengakar, basis pengetahuan dan pemikiran yang mapan, idealis dan konsisten, berkontribusi pada pemecahan problematik umat dan bangsa, serta mampu menjadi perekat komponen bangsa pada upaya perbaikan. Dan ini semua ada dalam koridor Islam? Mari kita telaah bersama…

Berikut penulis sampaikan unsur-unsur Muslim Negarawan:

Memiliki basis ideologi – Warning!! Ideologi bukan sekedar pengetahuan – Islam yang mengakar.

Apa yang mesti dilakukan kader KAMMI untuk mewujudkan pondasi pertama ini? Tentu saja penanaman aqidah yang lurus, sehingga terbentuknya kesadaran dan kefahaman bahwa Islam adalah way of life dan value of life yang menginternal. Bukan hanya sekedar simbol. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah sejauh mana usaha yang telah dilakukan kader KAMMI untuk memenuhi unsur ini? Terlalu dangkal rasanya jika hanya cukup mengandalkan MK (Madrasah KAMMI) dan mendapat materi Ma’rifatullah saja. Kita kalkulasi bersama. Seberapa sering durasi kajian aqidah dan manhaj diadakan? Lalu bagaimana dengan minat kader untuk mendatanginya?

Memiliki basis pengetahuan dan pemikiran – tentunya Islam – yang mapan.

Merujuk unsur ini, maka semua buku-buku ke-Islaman merupakan kewajiban yang bersifat fardhu ‘ain bagi kader. Referensi lain hanya bersifat sebagai pendukung saja. Tapi rupanya kondisi sekarang sudah terbalik. Buku ke-Islaman harus cukup puas hanya dijadikan sebagai pelengkap jika dibutuhkan sementara wacana yang menjadi trend di kalangan kader adalah yang berbau kekiri-kirian. Bahkan sampai muncul opini bahwa KAMMI itu sebenarnya adalah kanan yang kekiri-kirian atau kiri yang kekanan-kananan? Bisa jadi Syndrom Ashabus Syimal mulai menyerang KAMMI.

Apakah hal ini salah? Atau tidak boleh? Tentu saja tidak salah. Justru bagus, untuk memperluas cara pandang dan pengetahuan apalgi yang berkaitan dengan pola pemikiran dan gerakan lawan. Tetapi ironis ketika kader belum mengkhatamkan Shiroh Nabawiyah, Tarikh Islam, Shiroh Tabi’in, Kitab Fiqh, Kitab Tajwid plus tahsin, dan buku-pergerakan dan pemikiran Islam, tetapi sudah tergoda untuk mencicipi buku-buku ashabus syimal sebagai referensi diskusi dan tulisan, atau bahkan mulai dijadikan dasar pemikiran.

Tidak heran makanya ketika ada seorang kader yang begitu fasih menyebutkan pemikiran Machiaveli, Adam Smith dan pemikir western lainnya tapi kelu saat harus menceritakan shiroh Nabi dan shohabat, terlebih lagi menyebutkan pemikiran Ibnu Taimiyah, Muhammad Abduh, dan sejumlah pemikir Islam lainnya.

Ironis juga rasanya melihat kader yang begitu lancar berdialektika dan beretorika dalam diskusi dan orasi tapi seret dan tersendat-sendat saat tilawah. Lalu bagaimana misi KAMMI untuk membentuk masyarakat Robbani bisa diwujudkan lah wong bakal generasi Robbani-nya jauh panggang dari api. Bukankah Al Qur’an yang agung dengan sempurna telah menjelaskan kepada kita siapa sebenarnya generasi Rabbani itu? Generasi Rabbani adalah yang mempelajari dan mengajarkan Al Qur’an (QS 3:79). Bisa dibayangkan dengan tilawah yang masih terbata-bata, dan mengkhatamkan sekali per bulan saja belum tentu wal’iyadz billah. Nastaghfirullah… (kalau ini autokritik). Belum lagi kewajiban menghafal. Barangkali kita masuk kategori “Juz ‘ammanya pun bolong sana-sini” (penggalan nasyid Gondes).

Idealis dan konsisten

Sebuah keniscayaan bahwa mahasiswa harus idealis. Mau jadi apa bangsa jika mahasiswanya tidak idealis? Apalagi KAMMI yang genah-genah meletakkan Islam sebagai solusi permasalahan harus senatiasa idealis, berjiwa heroik/dinamis dan senantiasa bermujahadah untuk konsisten. Aneh rasanya melihat ada kader KAMMI kok melankolis, terkena VMJ atau sekarang yang sedang ngetrend HTS. KAMMI terlalu banyak pekerjaan daripada hanya sekedar mengurusi hal-hal yang yang tidak bermutu seperti itu. Hmm..., Muslim Negarawan rasanya terlalu jauh.

Berkontribusi pada pemecahan problematika umat dan bangsa

Amal adalah bentuk implementasi dari iman. Dalam QS 9:105 dikatakan “Dan katakanlah, beramallah kalian, maka Allah, Rasul-Nya dan orang-orang mukmin akan melihat amal kalian.” Ketika kader berkontribusi pada masyarakat maka ia harus merupakan part of solution bukan malah menjadi part of problem. Bukankah khoirunnas anfauhum linnas?

Menjadi perekat komponen bangsa pada upaya perbaikan

Memfungsikan diri sebagai perekat, maka menjadi suatu keharusan bagi kader KAMMI untuk masuk ke dalam berbagai lapisan masyarakat. Lepas dari baju ke-ekslusifan dan mulai mengupayakan sebuah formula yang bagus dan efektif untuk merambah kalangan Gepeng dan orang-orang pinggiran. Tidak hanya terpaku pada kalangan intelektual saja. Pastinya kita semua mahfum siapa yang selama ini mampu menggerakkan arus bawah dengan mengangkat isu buruh, HAM dan tema-tema sejenis lainnya.

...

Menjadi tugas agung bagi KAMMI, tentu saja Bidang Kaderisasi khususnya agar mampu menginternalisasikan Muslim Negarawan pada pribadi kader. Ini merupakan – meminjam istilah Anis Matta – Proyek Peradaban KAMMI. Saat ini yang harus diperbuat KAMMI adalah LAKUKAN seperti apa kata orang Arab pada prolog diatas. Bukan hanya terpaku seputar wacana saja. Ala kulli hal, semoga dengan melahirkan kader-kader Muslim Negarawan KAMMI mampu menjawab tantangan Fayaz Aziz dalam bukunya Dicari! Pemimpin Peradaban Dunia.

Semoga tulisan ini bukanlah wujud kepesimisan tapi lebih sebagai sebuah harapan. Allahu a’lam.


Read more!  
posted by Syahida
Permalink ¤ 1 comments
Dec 22, 2006,8:39 AM
Untuk Ibu
Ibu ...

Engkau paling tahu aku bukanlah pujangga yang bisa menuangkan ungkapan hati dalam kata-kata

Aku hanya punya ucapan terima kasih atas semua perjuanganmu untuk menjadikanku seperti sekarang ini

Selamat hari Ibu

Do'akan aku bisa menjadi Ibu sepertimu


Read more!  
posted by Syahida
Permalink ¤ 1 comments
Dec 21, 2006,9:20 AM
Untukmu... Penggenap Separuh Dien-ku

Wahai penggenap separuh Dien-ku.....
Ketika berkeinginan menjadikan rumah tangga kita sebagai rumah tangga dakwah
Maka lihatlah lebih dulu rumah tangga yang dibina oleh mujahidah ini

...

Zainab Al Ghazali:

Ketika kita sepakat utk menikah dahulu, ingatkah kau akan apa yang saya katakan kepadamu tempo hari?

Suami:

Tentu saya ingat, kau ajukan suatu syarat. Tetapi masalahnya sekarang saya kuatir atas keselamatanmu, sebab sekarang kau sedang berhadapan dengan si zalim itu (Jamal Abdul Nasser).

Zainab Al Ghazali:

Saya masih ingat benar apa yang saya ucapkan kepadamu, yaitu:

Engkau sebagai calon suamiku harus tahu bahwa aku memikul sesuatu sepanjang hidupku. Karena engkau sudah menyatakan persetujuan untuk menikahiku, maka wajiblah aku untuk mengungkapkan kepadamu dengan harapan agar engkau tidak akan bertanya lagi tentang hal itu. Tanggungjawab berat yang aku pikul sekarang adalah kedudukanku selaku Ketua Umum Jemaah Assayyidat Al-Muslimat.

Dan saya tidak akan melangkah mundur atau keluar dari garis perjuangan ini. Saya yakin bahwa memang suatu waktu saya akan jauh melangkah di medan dakwah sehingga akan terasa bertentangan dengan kepentingan pribadimu dan kepentingan perniagaanmu bahkan dengan kepentingan kehidupan suami isteri. Dan apabila yang demikian itu sudah sampai pada posisi sebagai penghalang dakwah dan rintangan untuk mendirikan Negara Islam, nampaknya jalan kita sudah menjadi saling bersimpangan.

Pada waktu itu kau menundukkan kepalamu ke tanah. Ketika aku angkat mukamu , aku lihat air matamu tertahan pada kelopak matamu. Lalu kamu berkata , “ Mintalah apa saja yang kau kehendaki!”.

Namun saya tidak minta apa pun darimu, tidak juga mas kawin yang biasa diminta calon isteri dari calon suami. Lalu kau berjanji bahwa kau tidak akan melarang saya untuk menunaikan tugas di jalan Allah….

Aku sudah bertekad akan mengesampingkan masalah perkawinan dari hidupku, agar aku dapat memusatkan perhatian sepenuhnya ke bidang dakwah. Dan kini bukanlah maksudku untuk meminta kau turut serta dalam jihadku ini, melainkan adalah hakku kiranya untuk meminta syarat darimu agar engkau tidak melarangku berjihad di jalan Allah. Dan apabila tanggungjawab meletakkan aku di barisan hadapan para mujahidin, janganlah engkau bertanya kepadaku apa yang aku lakukan.

Hendaknya antara kita dibina rasa saling percaya. Relakanlah isterimu ini yang sudah menyerahkan dirinya untuk jihad fisabilillah dan demi berdirinya Negara islam yg sudah menjadi tekadku sejak berusia 18 tahun. Apabila kepentingan perkawinan berseberangan dengan kepentingan dakwah kepada Allah, maka perkawinan akan berhenti dan kepentingan dakwah akan terus berlanjut dalam semua kegiatan dan kehadiranku…” Apakah kau masih ingat?


Suami:

Ya.


Zainab Al Ghazali:

Kini aku mohon agar kau memenuhi janjimu itu. Jangan bertanya aku bertemu dengan siapa. Dan aku memohon dari Allah agar pahala jihad ini dibagi antara kita berdua bila Dia berkenan menerima baik amalku ini.

Aku menyadari bahwa memang hakmulah untuk memberikan perintah kepadaku untuk aku patuhi. Akan tetapi Allah swt dalam diriku lebih besar dari diri kita dan panggilanNya terasa lebih agung.

...

Subhanallaah
Pernikahan bukanlah akhir tujuan dakwah
Pernikahan hanyalah bagian dari deretan panjang perjalanan dakwah



Read more!  
posted by Syahida
Permalink ¤ 0 comments
Dec 18, 2006,12:00 PM
My Dream
everywhere I go
all the places that I've been
every smiles and new horizon
on the land I've ever seen
there are people round the world
different faces different names
but there's one true emotion
that reminds me we're the same
let's talk about love, life and trust...

God, I dream how great if it's truly happened
and I dream it's not just a dream

Read more!  
posted by Syahida
Permalink ¤ 0 comments
Dec 7, 2006,10:12 AM
Dicari Generasi Ghuroba
غرباء ولغير الله لا نحنى الجباة ,غرباء وارتضيناها شعارا للحياة

إن تسأل عنّا فإنّا لا نبال بالطغا ,نحن جند الله دوما دربنا درب الأباة

لن نبال للقيود بل سنمضى للخلود , فلنجاهد ونناضل ونقاتل من جديد

غرباء ... هكذا الأحرار في دنيا العبيد ,كم تذاكرنا زمانا يوم كنّا سعداء

بكتاب الله نتلوه صباحا و مساءا

Kami takkan meletakkan kening pada selain Allah
Kami rela ia sebagai syair bagi kehidupan kami
Jika engkau bertanya siapa kami,
Kamilah orang yang tak gentar dengan thaghut durjana,
Kamilah tentara Allah, langkah kami para ksatria

Kami tak peduli dengan belenggu, terus maju menuju keabadian
Kami terus berjihad dan berjuang dan berperang kembali ke jalanNya
Ghuroba, itulah orang-orang merdeka ditengah para budak.

Betapa sering kami mengingat masa lalu
Disaat ummat islam berbahagia
Dengan kitab Allah yang selalu dibaca di waktu pagi dan dikala senja..


Mungkin nasyid ini terdengar asing di telinga kita sebagaimana judulnya Ghuroba. Karena sebagian dari kita mungkin lebih akrab dengan lantunan nasyid dari Seismic, Ed Coustic, Unic atau nasyid-nasyid yang bertemakan romantisme dengan lirik yang menghanyutkan para penikmatnya.

Nasyid ini menceritakan tentang mereka yang menyatakan dirinya sebagai jundullah yang telah bertransaksi dengan menjual anfuus dan amwal mereka untuk ditukar dengan jannah-Nya. Isy kariiman aumut syahiidan selalu menjadi nafas perjuangan mereka. Karena mereka bukanlah para oportunis yang suka menjilat penguasa demi keselamatan mereka. Bagi mereka penjara dan medan jihad lebih menarik ketimbang menggadaikan diri mereka pada thaghut durjana. Seperti perkataan Nabi Yusuf yang diabadikan dalam QS. Yusuf ayat 33 "Penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka (imroatul azis Zulaikha)." Entah dengan mereka yang selalu berpikir pragmatis.

Energi mereka seakan tak pernah habis untuk berjuang, karena mereka adalah ruhbaanun fillaiil wa fursaanun finnahaar. Hari-hari mereka selalu dilalui dengan jihad fii sabiliillah, dan malam-malam mereka selalu dilalui dengan berkhalwat dengan Rabb-nya. Bukan hanya jasad yang kuat, tapi juga ruhiyah yang mantap sebagai bekal yang mengiringi setiap langkah mereka. Entah dengan mereka yang selalu menjadikan futur sebagi alasan kemandekannya.

Laa tas'aluuni 'an hayaat...Jangan kau tanya tentang hidupku. Adalah bait nasyid yang menjadi penghibur kala merentasi perjalanan panjang yang amat berat. Entah seberapa beratnya dibanding dengan mereka yang kerap mengeluh tentangnya amanah dakwahnya.

...

Ikhwah fillah, semestinya kita bercermin pada mereka. Walaupun mereka manusia, sama seperti kita. Bukan malaikat. Bisa terluka, dan bisa terjatuh. Tetapi ditengah keterbatasannya mereka telah mengisi seluruh hidupnya sarat dengan prestasi untuk Islam. Mereka tidak menyisakan sedikitpun ruang hidupnya dengan kemubadziran dan kemaksiatan. Bagaimana dengan kita? Tidakkah kita tersentil dengan jalan hidup mereka? "Dan di dalam kisah itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berpikir?" (QS. Yusuf: 111).

Meski sekecil apapun amal pasti akan diperhitungkan, tetapi janganlah pernah merasa cukup dengan secuil prestasi yang pernah kita ukir. Janganlah pernah merasa bangga dengan benteng keimanan kita yang bangun. Jangan pernah menundukkan kepala untuk membandingkan amalan kita. Tetapi tengadahlah. Lihatlah mereka yang telah menorehkan namanya dalam sejarah dengan tinta darahnya. "Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga padahal belum datang padamu cobaan seperti yang dialami orang-orang terdahulu sebelum kamu." (QS. Al Baqarah: 214)


بدأ الاسلام غريبا وسيعود غريبا كما بدأ فطوبى للغرباء
"Islam bermula dalam keadaan asing, dan akan kembali sebagaimana ia bermula (sebagai sesuatu yang) asing; maka berbahagialah bagi kaum ghuroba' (orang-orang asing tersebut)." (HR. Muslim)


Read more!  
posted by Syahida
Permalink ¤ 2 comments
Dec 6, 2006,1:53 PM
Wasiat Sang Syuhada

عَلَى الْكَرِيْمِ أَنْ يَخْتَارَ اْلمَيْتَةَ الَّتِي يُحِبُّ أَنْ يَلْقَى اللهَ بها

فَنِهَايَةُ اْلإِنْسَانِ لابُدَّ أَنْ تَأْتِي مَا دَامَ َقدَرُ اللهِ نَفَذَ

"Orang terhormat akan memilih cara kematian yang dia cintai untuk berjumpa dengan Allah, karena akhir kesudahan seorang manusia pasti akan datang juga
selama Allah telah mentakdirkan"

(Muhandis Yahya Ayyasy)


Read more!  
posted by Syahida
Permalink ¤ 0 comments
,10:37 AM
Sepenggal Kisah di Kaki Merapi
Kenangan ini masih saja menyisakan sekelumit duka di hati, walaupun sudah cukup lama terjadi. Tepatnya ketika Merapi dinyatakan berstatus siaga, maka Santika DPD Sukoharjo dita'limatkan untuk segera meluncur ke daerah Kemalang, Klaten. Saat itu, pilu rasanya menyaksikan pemandangan yang ada di depan mata kami. Barak dan tenda pengungsi yang terlalu sesak rasanya jika dihuni oleh beberapa keluarga, anak-anak yang terpaksa meliburkan diri dari sekolahnya, bapak-bapak yang hanya bisa duduk mencangkung tanpa bisa bekerja, dan serangkaian pemandangan lainnya.

Segera saja kami disibukkan dengan bermacam-macam aktivitas, diantaranya seperti dapur umum, Sekolah darurat, TPA dan bermacam-macam aktivitas lainnya yang bisa mengajak para pengungsi untuk menyibukkan diri. Untuk sejenak melupakan kerinduan mereka untuk pulang ke kampungnya masing-masing. Ada keharuan yang menyelisip di hati kami menyaksikan senyum dan tawa yang perlahan mulai muncul di permukaan wajah mereka dengan kesibukan yang mereka lakukan. Sungguh suatu hal yang tak bisa tergantikan.

Cerita sedih berawal ketika berlangsung kegiatan belajar di sekolah darurat untuk anak-anak setingkat kelas 5. Ada satu anak yang sangat menonjol. Namanya Sriyanto. Ia begitu bersemangat mengikuti pelajaran, dan tak segan-segan bertanya jika ada sesuatu yang ia tak mengerti. Ia cukup menarik perhatian kami

Selepas belajar kami ngobrol dengannya. Mulai dari tempat tinggal, pekerjaan orang tua dll. Ia bercerita layaknya orang dewasa. Hingga kemudian sampailah pada cerita sedihnya. Ia mengatakan bahwa saat ini ia sudah tidak sekolah lagi. "Ora ono bandhane mba (nggak ada uangnya mba)."Ia mengatakan hal ini dengan ringan dan lepas. "Sa'iki aku kerjo, nggo mbayari sekolah adhiku (Sekarang saya kerja, untuk mbiayain sekolah adik saya)" . Ora popo aku ora sekolah, sing penting adhiku iso (Biarlah saya nggak sekolah, yang penting adik bisa)"

Seketika hati kami terhentak. Ya Allah.... Astaghfirullaahal'adziim. Anak sekecil dia sudah dihadapkan pada masalah serumit itu. Bukankah harusnya ia masih menikmati saat-saat indahnya sekolah, bermain, dan belajar? Kemana selama ini bantuan yang diberikan pemerintah? Tersumbat dimanakah bantuan itu? Ini baru satu Sriyanto. Lalu bagaimana nasib Sriyanto-Sriyanto yang lain?

Kami malu Ya Allah. Mungkin selama ini hanya jargon ammar ma'ruf nahi munkar yang bisa kami serukan, sementara ketika dihadapkan pada realitas kami belum tahu bagaimana harus menjawabnya. Arti sebuah kerelaan, arti sebuah kedewasaan, arti sebuah pengorbanan begitu lugas ia ajarkan kepada kami. Bukan hanya sekedar basa-basi atau teori.

Ya Allah... berikanlah kekuatan pada kami untuk bisa menjadi penolong bagi saudara-saudara kami
Jadikanlah kami sebagai hambamu yang nafi'ul lighoirihi
Jadikanlah kami hambamu yang bukan hanya pandai menyerukan jargon tanpa bisa mewujudkannya

Ya Allah.. Ampunilah para pemimpin kami yang telah mendzalimi rakyatnya
Jadikanlah mereka pemimpin yang amanah dan berhati lembut, seperti Rasulullah yang selalu menyebut ummati, ummati dalam setiap sujud panjangnya
Jadikanlah mereka pemimpin yang rela bersusah payah demi kesejahteraan rakyatnya


Sriyanto, do'akan mbak ya supaya bukan hanya bisa menjadi orang yang shaleh tapi tidak berdaya guna

Read more!  
posted by Syahida
Permalink ¤ 0 comments