Oct 9, 2006,10:27 AM
Bidadari-Bidadari Syurga
Mereka...

Adalah pelita-pelita

Yang menyinari derap langkah perlawanan Palestina

Mereka...

Adalah mahkota-mahkota

Yang ditempatkan di atas kepala

Orang-orang yang bebas dan terhormat

Terekam dalam keabadian

Dengan abjad-abjad dari cahaya dan api.


Dalam setiap episode pejuangan rakyat Palestina, keikutsertaan wanita Palestina selalu sesuai bagi setiap episode tersebut. Pada periode paska pendudukan penjajah Zionis Israel atas Palestina pada Juni 1967, wanita-wanita inteletual Palestina muncul dalam pejuang nasional Palestina. Mereka menyokong dan membantu memasang bom-bom ranjau, membawakan perbekalan dan membantu para pejuang dalam melaksanakan aksi-aksi berani mati. Di samping, tentu saja, peran tarbawi (pembinaan) yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Di antara mereka adalah para pengajar dan pendidik (mu'alimat wa murabiyat).

Ada banyak nama bisa disebut, untuk sekadar contoh, di antaranya adalah Ubla Thaha dari al Quds (Jerusalem), Lathifa Hawari dari Ramallah, Khadija Abu Arqub dari Hebron dan sebagainya. Di antara mereka ada yang turut berpartisipasi dalam aksi pembajakan pesawat Zionis Israel, di antaranya adalah Laila Khaled, Rima Ba'lusha dan Zahera Endraus.

Pada periode selanjutnya, wanita-wanita Palestina masih terus menunjukan aktivitas perlawanan mereka dalam kancah jihad Palestina. Di antara mereka ada yang turun ke medan jihad dan menjadi korban pembuangan oleh pihak penjajah. Peran mereka sama seperti para pejuang pria lainnya, semisal Teriz Helsa, yang menjadi tawanan pihak penjajah. Pada masa intifadhah al Aqsha, wanita-wanita Palestina terlibat dalam perlawanan dan jihad secara lebih luas dan langsung ke aksi jihad di medan pertempuran melawan penjajah. Di antara mereka kini mendekam dalam penjara penjajah Zionis Israel karena terlibat dalam jihad bersama para pejuang pria lainnya.

Dalam fenomena amal jihad wanita pada intifadhah al Aqsha, yang meletus sejak 28 September 2000, muncul fenomena aksi-aksi syahid yang di antaranya dilakukan para wanita pejuang Palestina. Berikut adalah profil singkat mereka.

Wafa Idris (26), 28 Januari 2002
Nenek moyangnya berasal dari kota al Ramleh di wilayah Tepi Barat. Kemudian hijrah ke kamp pengungsi al Am'ari dekat Ramallah setelah penjajah Zionis Israel menduduki kota Ramleh tahun 1948. Wafa tinggal di sebuah keluarga yang sederhana dengan rumah bilik tanpa bata dan semen, hidup dalam kondisi social yang sangat sulit.

Dia adalah satu-satunya anak wanita di keluarga yang hanya memiliki satu orang tua, ibu. Suatu saat dia berpamitan pada ibu dan saudara-saudaranya seraya berkata kepada mereka. Situasinya sangat sulit, bisa jadi seseorang mati syahid kapan saja.

Akhirnya dia pun terlambat pulang. Malam telah tiba namun Wafa tak kunjung pulang ke rumah. Keluarganya pun mulai mencari dan bertanya kepada rekan-rekan wanitanya. Mereka hanya mengatakan, Wafa telah berpamitan dan minta kepada rekan-rekannya agar mendoakan seraya berkata, Aku akan melakukan sesuatu yang dapat mengangkat (meninggikan) kepala kalian. Tanpa memberi penjelasan lebih panjuat apa gerangan yang akan dia lakukan.

Semua hanya menunggu-nunggu, antara harap dan cemas. Sampai akhirnya datang kabar yang menyatakan Wafa telah gugur syahid dalam aksi syahid di jalan Yafa, Jerusalem (terjajah), pada 28 Januari 2002.

Dareen Abu Isha (22), 27 Februari 2002
Pejuang wanita Palestina ini berasal dari desa Beit Wazn, dekat dengan kota Nablus di wilayah Tepi Barat. Dia adalah salah satu mahasiswi di Universitas Nasional al Najah di Nablus jurusan studi Islam. Dia juga termasuk salah satu aktivis mahasiswi yang paling menonjol dalam aktivitas keislaman di kampus.

Ibunya mengatakan, saat mendapat kabat tentang kesyahidan putrinya. Hati saya mengatakan pada saya bahwa Dareen akan gugur syahid, karena dia senantiasa mengatakan kepada saya, doakan untukku wahai Ummi, agar aku menjadi syuhada yang gugur syahid di jalan Allah sehingga aku dapat menggapai syurga dan engkau akan bersamaku di dalamnya dengan izin Allah.

Mahasiswi berusia 22 tahun ini gugur syahid dalam aksi syahid tanggal 27 Febuari 2002, di mana Brigade Martir al Aqsha, sayap militer gerakan Fatah, menyatakan bertanggung jawab atas aksi tersebut.

Ayat al Akrash (18 ), 29 Maret 2002
Pelaku aksi syahid ini berasal dari kamp pengungsi Dahesya dekat Ramallah, wilayah Tepi Barat. Meski usianya masih tergolong muda, siswi sekolah menengah atas ini senantiasa mencari jalan untuk bisa terlibat dalam jihad dan perlawanan.

Hari itu para siswa dan siswi Palestina sudah pulang ke rumah-rumah mereka, namun Ayat justru berpamitan kepada mereka dengan kucuran air mata yang melinangi mukanya seraya berkata kepada siswi-siswi yang lain. Saya ingin menyelesaikan sebuah pekerjaan. Maka sebelum menunaikan pekerjaan yang dimaksud, Ayat menulis di secarik kertas dan menolak mengungkapkan isi surat tersebut. Dia minta kepada salah seorang teman dekatnya agar membawa lipatan kertas tersebut dan tidak membukanya kecuali keesokan harinya.

Setelah memberikan kerta, yang tidak lain berisi wasiat darinya, Ayat segera menenteng tas yang penuh dengan bahan peledak. Dia bertolak ke sebuah jalan di al Quds (Jerusalem) terjajah. Hari itu, 29 Maret 2002, Ayat telah menunaikan tugas jihad dengan melakukan aksi bom syahid yang menewaskan dan melukai puluhan orang Zionis Israel.

Andaleeb (18 ), 12 April 2002
Namanya Andaleeb Taqateqa, berasal dari kampung Beit Fajjar, utara Hebron Tepi Barat. Paska perang bumi hangus yang dilancarkan penjajah Zionis Israel terhadap kamp pengungsi Jenin, pihak penjajah menerapkan operasi tembok pengaman. Maka tidak ada jalan lain bagi kelompok perlawanan Palestina kecuali menunjukan kepada dunia akan kegagalan aksi teror yang dilakukan di Jenin dan operasi tembok pengamannya.

Pemandangan hari itu benar-benar menggoncang semua jiwa yang hadir, saat Andaleeb dan membaca wasianya (sebelum melakukan aksi syahid) kepada semua yang hadir seraya mengangkat al Qur'an Kitabullah. Dia mengatakan, Sesungguhnya kehidupan ini kehidupan yang fana. Tidak ada rasa dan harganya. Sebaik-baik yang dicari manusia adalah kehidupan yang mulia di syurga.

Di pagi hari, sebelum berangkat keluar rumah, Andaleeb berkata kepada ibunya agar mempersiapkan diri. Karena akan datang kabar yang menggembirakan secara tiba-tiba di sore hari. Ibu Andaleeb hanya menduga bahwa dia akan kedatangan seseorang yang akan melamar putrinya ini. Namun hari itu, 12 April 2002, Andaleeb tengah melakukan tugas jihad dengan melakukan aksi bom syahid yang menewaskan tidak kurang dari 10 orang Zionis Israel.

Heba Daragema (19), 20 Mei 2003
Nama lengkapnya Heba Sa'id Daragema, berusia 19 tahun. Wanita muda pelaku aksi syahid ini berasal dari kota Thubas di daerah Jenin, Tepi Barat. Namanya dielukan masyarakat Palestina setelah sukses dalam aksi syahid Afula. Aksi ini terjadi sekitar pukul 17:15 pada hari Senin tanggal 20 Mei 2003 di gerbang masuk sebelah timur kompleks perdagangan Ha'amkeem di kota Afula, wilayah utara Palestina 48 (wilayah yang dijajah Zionis Israel sejak tahun 1948). Aksi ini menewaskan 3 orang Zionis dan melukai lebih 50 orang lainnya.

Hunadi Garadat (28 ), 4 Oktober 2003
Hunadi Taisir Garadat, ia lahir pada tanggal 22 September 1975 di kota Jenin, wilayah utara Tepi Barat. Pada hari Sabtu tanggal 4 Oktober 2003, untuk hari yang kedua, wanita pengacara ini keluar meningalkan rumah pada pukul 07:30 tanpa mengucapkan salam perpisahan kepada siapapun atau menampakan perubahan yang mengisyaratkan dia tengah bertekad melakukan sesuatu.

Waktu terus berjalan, hingga kemudian radio Zionis Israel mengumumkan bahwa seorang wanita Palestina meledakan dirinya di kaffe Zionis di Haifa dan menewaskan 19 orang Zionis Israel dan puluhan lainnya terluka. Selanjutnya diketahui, aksi tersebut dilakukan seorang wanita muda Palestina bernama Hunadi setelah pihak gerakan Jihad Islam menyatakan bertanggung jawab atas aksi tersebut. Dia adalah pelaku aksi syahid wanita ke-6 selama masa intifadhah al Aqsha yang meletus sejak 28 September 2000. Hunadi menyelesaikan studi magister bidang pembelaan hukum setelah menyelesaikan sarjana hukum di Universitas Jarsy di Yordania tahun 1999.

Nora Shelhub, 25 Februari 2002
Nora Jamal Shelhub, usianya masih sangat belia. Gadis berusia 15 tahun ini gugur dalam aksi syahid di gerbang perlintasan militer Zionis Israel pada 25 Februari, yang dikenal perlintasan militer al Thaiba. Perlintasan militer ini memisahkan wilayah-wilayah Palestina yang diduduki Zionis Israel sejak tahun 1967 dengan wilayah Palestina 48.

Ilham Dasuki, April 2002
Ia gugur saat mempertahankan kehormatan keluarganya. Ia meledakan dirinya saat pasukan penjajah Zionis Israel menyerbu rumahnya di kamp pengungsi Jenin pada bulan April 2002, pada saat api pertempuran tengah membara di medan perang kamp pengungsi Jenin. Aksi kepahlawanan Ilham ini dicatat sebagai legenda khusus dalam kisah kepahlawanan perang Jenin. Aksi ini sendiri menewaskan dua komandan Zionis Israel dan melukai 10 serdadu Zionis Israel lainnya.

Reem Riyasyi (22), 14 Januari 2004
Reem Shaleh Riyasyi, berasal dari kampung Zaitun di kota Gaza. Wanita Palestina ini adalah seorang ibu beranak dua. Ia gugur syahid dalam aksi bom syahid melawan musuh Allah dan musuh kemanusiaan, penjahat Zionis Israel, di gerbang Erez, sebuah zona yang memisahkan antara wilayah Jalur Gaza (utara) dengan wilayah Palestina 48.

Pada hari Rabu 14 Oktober 2004 tepat pukul 09:37 (waktu setempat), pelaku aksi syahid wanita pertama dari Brigade Izuddin al Qassam, sayap militer gerakan HAMAS, ini berhasil menyelesaikan aksi kepahlawanannya. Informasi kala itu menyebutkan, 4 orang Zionis Israel tewas dan lebih 10 lainnya terluka.

Sina Qudaih (33), 21 Maret 2004
Ahad pagi 21 Maret 2004, pasukan penjajah Zionis Israel menyerbu dan menduduki kota Abasan di sebelah timur distrik Khan Yunis. Mereka mengepung rumah komandan al Qassam Basem Qudaih dan memintanya menyerahkan diri. Namun, dia bersama istrinya enggan atas permintaan pasukan penjajah Zionis Israel tersebut, bahkan bertekad melanjutkan berjibaku senjata dengan para penjahat tersebut hingga gugur syahid.

Dalam aksi baku senjata ini, kedua pejuang suami istri ini berhasil meledakan sejumlah bom ke arah tank-tank Zionis Israel dan sejumlah bom rakitan tangan ke para serdadu Zionis Israel. Setelah itu, keduanya meledakan diri dengan bom ikat pinggang di tengah-tengah barisan pasukan Zionis yang menyerbu rumah hingga menewaskan dan melukai sejumlah pasukan Zionis Israel.

Zainab Ali (18 ), 22 September 2004
Asy Syahidah Zainab Ali Isa Abu Salem, berasal dari kamp pengungsi Askar Lama di sebelah timur kota Nablus, wilayah Tepi Barat. Gugur syahid dalam aksi bom syahid di transit para serdadu Zionis Israel yang hendak bepergian dengan gratis menggunakan bus khusus ke Laut Mati dan ke permukiman Yahudi Ma'ale Adomem, permukiman Yahudi terbesar di al Quds terjajah.

Zainab berhasil melakukan aksi syahidnya meski telah menjalani pemeriksaan ekstra dari keamanan Zionis Israel sebelum sampai di lokasi transit tersebut. Setidaknya begitulah menurut pengakuan pihak keamanan Zionis Israel. Aksi ini mengakibatkan seorang serdadu dan warga Zionis Israel tewas sementara 16 Zionis lainnya terluka, dua di antaranya dalam kondisi kritis. Pihak Brigade al Aqsha, sayap militer gerakan Fatah, menyatakan bertanggung jawab atas aksi bom syahid ini.
(taken from dari hudzaifah.org)

Read more!  
posted by Syahida
Permalink ¤ 1 comments
Oct 4, 2006,11:02 AM
Perjalanan Masih Jauh
Perjalanan masih jauh
Entah sampai kapan akan tiba
Seperti sebuah penantian yang tidak berujung
Kadang aku merasa bahwa energiku takkan cukup untuk meneruskan perjalanan ini
Kepenatan yang berujung sebuah keterpaksaan mulai menderaku
Satu-persatu penyesalan perlahan-lahan mulai merayapi batinku

Sesak...
Ingin kuhempaskan semua beban yang menjejali diriku
Ingin kucampakkan semua hal yang menggelayuti pikiranku
Agar kaki ini terasa lebih ringan melangkah
Kemana gerangan ruh yang setia menemani perjalananku?
Harus kuapakan kehampaan yang menyelimutiku jiwaku?
Bingung...
Raab... aku merasa Kau begitu jauh

Diantara kecamuk yang bergemuruh di batinku
Aku coba bertanya pada diriku sendiri
Man ana?
Min aina ana?
Ila aina ana?
Kuresapi dalam-dalam pertanyaan tersebut
Sejumput kesadaranpun mulai membayang di benakku

Aku malu ya Raab...
Layakkah aku disebut sebagai Abdullah!!!
Aku hanya pandai menuntut
Sementara terlalu sering kuabaikan hak-Mu
Terlalu banyak nikmat-Mu yang telah kudustakan
Terlalu sibuk barang ku mengucap syukur atas karunia-Mu
Terlalu sombong barang ku mengagungkan kebesaran-Mu

Dunia sudah mencuri jiwaku
Melenakanku dengan janji semunya
Aku lupa bahwa akhirat adalah akhir penantianku
Aku lupa bahwa setiap amalan akan ditimbang
Aku lupa menghitung seberapa banyak bekal yang bisa memberatkan timbangan kebaikanku kelak!

Aku sadar Ya Raab...
Aku bukanlah seorang ma'shum yang suci dari dosa
Aku bukanlah insan kamil yang sempurna
Aku hanya seorang hamba-Mu yang kerdil dan lemah

Raab... aku yakin Kau masih mendengarkanku
Aku bermunajat agar Kau memberikan ampunan-Mu padaku
Jangan Kau cabut kenikmatan setelah Kau berikan padaku
Jangan Kau biarkan dunia menutup mataku atas akhirat-Mu
Tetapkanlah hatiku atas-Mu
Golongkanlah aku dalam kafilah syuhada yang senantiasa rindu berjumpa dengan-Mu

intanshurullaha yanshurkum wa yutsabbit aqdaamakum

Read more!  
posted by Syahida
Permalink ¤ 1 comments
Oct 2, 2006,11:50 AM
To be a Hero
Da'wah ini hanya untuk pahlawan yang tahu medan apa yang akan dilalui

Dan strategi apa yang harus digunakan

Tak ada orang yang bisa menjadi pahlawan dalam segala hal

Pahlawan hanya menempatkan diri dimana mereka bisa menjadi pahlawan

Mereka tidak akan memaksakan kehendak

Dan tidak akan melawan kodratnya untuk meraih posisi paling mulia disisi Allah

(Anis Matta, Mencari Pahlawan Indonesia)

Ada banyak jenis pahlawan yang bisa disebutkan. Pahlawan tanpa tanda jasa alias guru, pahlawan revolusi yang berjasa pada negara atau pahlawan kesiangan yang biasanya ditujukan untuk para polisi dalam film, karena biasanya selalu datang di bagian akhir cerita jika para penjahat sudah berhasil dilumpuhkan oleh sang jagoan (maaf ya pak pol protesnya ke sutradara aja).

Bila ditinjau dari segi bahasa ada yang mengatakan bahwa pahlawan berasal dari kata "pahala" ditambah akhiran -wan yang jika digabungkan menjadi sebuah kata yang berarti orang yang berpahala karena berbuat baik. Jika membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia maka pahlawan adalah orang yang menonjol karena keberaniannya dan pengorbanannya dalam membela kebenaran, atau pejuang yang gagah berani. Sementara beberapa poin sengaja dicantumkan dalam Peraturan Presiden No 33 Tahun 1964 untuk memenuhi kriteria sebagai pahlawan, seperti sudah meningggal dunia, dan berjasa kepada negara.

Lalu bagimanakah pahlawan menurut versi kita? Apakah seperti model pahlawan dalam film-film yang dengan semangatnya yang heroik selalu tampil sebagi avant garde dalam menumpas kejahatan demi mewujudkan kebenaran? Sebutlah Rambo dengan kalung peluru dan granatnya, Kenshi Himura dengan Samurainya atau King Arthur dengan Excaliburnya. Padahal Rambo bisa jadi mudah dikalahkan tanpa peluru dan granatnya, Kensi dan King Arthur pun tidak mampu maksimal bertarung tanpa pedangnya. Artinya mereka semua membutuhkan pendukung dalam pertarungannya, karena mereka juga manusia biasa.

Satu hal inilah yang sering dilupakan, bahwa seorang pahlawan juga butuh pendukung dalam perjuangannya. Mereka tidak bisa berjuang sendirian. Mereka butuh piranti untuk memenangkan pertempuran. Tak cukup hanya senjata. Mereka butuh strategi atau taktik untuk melawan musuh. Mereka juga butuh partner yang dapat membersamainya dalam berjuang.

Seperti Rasulullah. Setiap perjuangannya selalu diiringi oleh para shahabat. Mereka tak pernah luput untuk mengawal beliau. Prinsip kebersamaan diatas segalanya. Beliau tidak pernah bergerak secara infirodhi. Pun dalam mengambil keputusan, beliau selalu mengutamakan prinsip syuro. Dan dalam bekerja, amal jama'i yang selalu beliau wacanakan. Beliau tidak pernah membesar-besarkan siapa dan berada pada posisi yang manakah mereka. Semuanya sama.

Ironis jika dibandingkan dengan fenomena yang sering ditemui saat ini. Amal jama'i sukar sekali dilihat secara kasat mata. Personalitas begitu mudah dijumpai karena mungkin orang lain akan lebih mudah menilai siapa yang paling berjasa. Prinsip syuro seakan-akan hanya sebuah lip service saja. Seringkali pula kita terjebak pada pemikiran bahwa orang paling berjasa adalah orang yang berada pada barisan paling depan, dan yang paling kelihatan geraknya. Mereka yang hanya ada di balik layar atau posisi pendukung kurang diperhitungkan keberadaannya dan mungkin seringkali tak tampak di mata.

Tak jauh beda dalam kerja-kerja da'wah. Seringkali orang yang dianggap paling berjasa adalah yang paling banyak memegang amanah, paling tinggi jam terbangnya, sampai-sampai dijuluki P6 (pergi pagi-pagi pulang petang-petang). Distribusi amanah seringkali bermuara pada beberapa orang. Dan yang diamanahipun hanya mengangguk-angguk pasrah tak berdaya sambil merutuk dalam hati saja. Tidak heran jika fenomena futur dalam da'wah semakin sering menjangkiti para aktivisnya. Rata-rata penyebabnya pun sama, "jumud" yang akhirnya berujung pada insilakh.

Seperti apa yang ditulis Anis Matta dalam "Mencari Pahlawan Indonesia" seharusnya yang namanya pahlawan itu justru orang-orang yang tahu kapasitas dirinya dan mampu bekerja maksimal dengan kapasitas tersebut. Seorang pahlawan sejati tahu kapan saat berhenti untuk menata strategi perjuangannya dan tahu kapan saat harus kembali bergerak. Bukan hanya terjebak dalam wilayah konseptual tapi juga mampu mempraksiskannya. Popularitas, pujian, decak kagum, atau penghargaan bukan semata-mata yang ia cari. Cukup keridhoan-Nya-lah saja yang ia damba. Da'wahnya hanya akan berhenti ketika maut beruluk salam kepadanya.

Yaa jundullah, mari luruskan kembali niatan kita.
Jangan mengistinbathkan makna pahlawan hanya seperti yang ada di kamus besar atau peraturan presiden saja. Popularitas di dunia hanya akan semakin menjauhkan kita dari-Nya. Biarlah hanya Allah dan Rasul, beserta orang-orang beriman yang menilai hasil karya kita. Atau semuanya hanya akan sia-sia. Wallahu musta'an


Read more!  
posted by Syahida
Permalink ¤ 0 comments