Dec 6, 2006,10:37 AM
Sepenggal Kisah di Kaki Merapi
Kenangan ini masih saja menyisakan sekelumit duka di hati, walaupun sudah cukup lama terjadi. Tepatnya ketika Merapi dinyatakan berstatus siaga, maka Santika DPD Sukoharjo dita'limatkan untuk segera meluncur ke daerah Kemalang, Klaten. Saat itu, pilu rasanya menyaksikan pemandangan yang ada di depan mata kami. Barak dan tenda pengungsi yang terlalu sesak rasanya jika dihuni oleh beberapa keluarga, anak-anak yang terpaksa meliburkan diri dari sekolahnya, bapak-bapak yang hanya bisa duduk mencangkung tanpa bisa bekerja, dan serangkaian pemandangan lainnya.

Segera saja kami disibukkan dengan bermacam-macam aktivitas, diantaranya seperti dapur umum, Sekolah darurat, TPA dan bermacam-macam aktivitas lainnya yang bisa mengajak para pengungsi untuk menyibukkan diri. Untuk sejenak melupakan kerinduan mereka untuk pulang ke kampungnya masing-masing. Ada keharuan yang menyelisip di hati kami menyaksikan senyum dan tawa yang perlahan mulai muncul di permukaan wajah mereka dengan kesibukan yang mereka lakukan. Sungguh suatu hal yang tak bisa tergantikan.

Cerita sedih berawal ketika berlangsung kegiatan belajar di sekolah darurat untuk anak-anak setingkat kelas 5. Ada satu anak yang sangat menonjol. Namanya Sriyanto. Ia begitu bersemangat mengikuti pelajaran, dan tak segan-segan bertanya jika ada sesuatu yang ia tak mengerti. Ia cukup menarik perhatian kami

Selepas belajar kami ngobrol dengannya. Mulai dari tempat tinggal, pekerjaan orang tua dll. Ia bercerita layaknya orang dewasa. Hingga kemudian sampailah pada cerita sedihnya. Ia mengatakan bahwa saat ini ia sudah tidak sekolah lagi. "Ora ono bandhane mba (nggak ada uangnya mba)."Ia mengatakan hal ini dengan ringan dan lepas. "Sa'iki aku kerjo, nggo mbayari sekolah adhiku (Sekarang saya kerja, untuk mbiayain sekolah adik saya)" . Ora popo aku ora sekolah, sing penting adhiku iso (Biarlah saya nggak sekolah, yang penting adik bisa)"

Seketika hati kami terhentak. Ya Allah.... Astaghfirullaahal'adziim. Anak sekecil dia sudah dihadapkan pada masalah serumit itu. Bukankah harusnya ia masih menikmati saat-saat indahnya sekolah, bermain, dan belajar? Kemana selama ini bantuan yang diberikan pemerintah? Tersumbat dimanakah bantuan itu? Ini baru satu Sriyanto. Lalu bagaimana nasib Sriyanto-Sriyanto yang lain?

Kami malu Ya Allah. Mungkin selama ini hanya jargon ammar ma'ruf nahi munkar yang bisa kami serukan, sementara ketika dihadapkan pada realitas kami belum tahu bagaimana harus menjawabnya. Arti sebuah kerelaan, arti sebuah kedewasaan, arti sebuah pengorbanan begitu lugas ia ajarkan kepada kami. Bukan hanya sekedar basa-basi atau teori.

Ya Allah... berikanlah kekuatan pada kami untuk bisa menjadi penolong bagi saudara-saudara kami
Jadikanlah kami sebagai hambamu yang nafi'ul lighoirihi
Jadikanlah kami hambamu yang bukan hanya pandai menyerukan jargon tanpa bisa mewujudkannya

Ya Allah.. Ampunilah para pemimpin kami yang telah mendzalimi rakyatnya
Jadikanlah mereka pemimpin yang amanah dan berhati lembut, seperti Rasulullah yang selalu menyebut ummati, ummati dalam setiap sujud panjangnya
Jadikanlah mereka pemimpin yang rela bersusah payah demi kesejahteraan rakyatnya


Sriyanto, do'akan mbak ya supaya bukan hanya bisa menjadi orang yang shaleh tapi tidak berdaya guna
 
posted by Syahida
Permalink ยค


0 Comments: