Dec 21, 2006,9:20 AM
Untukmu... Penggenap Separuh Dien-ku

Wahai penggenap separuh Dien-ku.....
Ketika berkeinginan menjadikan rumah tangga kita sebagai rumah tangga dakwah
Maka lihatlah lebih dulu rumah tangga yang dibina oleh mujahidah ini

...

Zainab Al Ghazali:

Ketika kita sepakat utk menikah dahulu, ingatkah kau akan apa yang saya katakan kepadamu tempo hari?

Suami:

Tentu saya ingat, kau ajukan suatu syarat. Tetapi masalahnya sekarang saya kuatir atas keselamatanmu, sebab sekarang kau sedang berhadapan dengan si zalim itu (Jamal Abdul Nasser).

Zainab Al Ghazali:

Saya masih ingat benar apa yang saya ucapkan kepadamu, yaitu:

Engkau sebagai calon suamiku harus tahu bahwa aku memikul sesuatu sepanjang hidupku. Karena engkau sudah menyatakan persetujuan untuk menikahiku, maka wajiblah aku untuk mengungkapkan kepadamu dengan harapan agar engkau tidak akan bertanya lagi tentang hal itu. Tanggungjawab berat yang aku pikul sekarang adalah kedudukanku selaku Ketua Umum Jemaah Assayyidat Al-Muslimat.

Dan saya tidak akan melangkah mundur atau keluar dari garis perjuangan ini. Saya yakin bahwa memang suatu waktu saya akan jauh melangkah di medan dakwah sehingga akan terasa bertentangan dengan kepentingan pribadimu dan kepentingan perniagaanmu bahkan dengan kepentingan kehidupan suami isteri. Dan apabila yang demikian itu sudah sampai pada posisi sebagai penghalang dakwah dan rintangan untuk mendirikan Negara Islam, nampaknya jalan kita sudah menjadi saling bersimpangan.

Pada waktu itu kau menundukkan kepalamu ke tanah. Ketika aku angkat mukamu , aku lihat air matamu tertahan pada kelopak matamu. Lalu kamu berkata , “ Mintalah apa saja yang kau kehendaki!”.

Namun saya tidak minta apa pun darimu, tidak juga mas kawin yang biasa diminta calon isteri dari calon suami. Lalu kau berjanji bahwa kau tidak akan melarang saya untuk menunaikan tugas di jalan Allah….

Aku sudah bertekad akan mengesampingkan masalah perkawinan dari hidupku, agar aku dapat memusatkan perhatian sepenuhnya ke bidang dakwah. Dan kini bukanlah maksudku untuk meminta kau turut serta dalam jihadku ini, melainkan adalah hakku kiranya untuk meminta syarat darimu agar engkau tidak melarangku berjihad di jalan Allah. Dan apabila tanggungjawab meletakkan aku di barisan hadapan para mujahidin, janganlah engkau bertanya kepadaku apa yang aku lakukan.

Hendaknya antara kita dibina rasa saling percaya. Relakanlah isterimu ini yang sudah menyerahkan dirinya untuk jihad fisabilillah dan demi berdirinya Negara islam yg sudah menjadi tekadku sejak berusia 18 tahun. Apabila kepentingan perkawinan berseberangan dengan kepentingan dakwah kepada Allah, maka perkawinan akan berhenti dan kepentingan dakwah akan terus berlanjut dalam semua kegiatan dan kehadiranku…” Apakah kau masih ingat?


Suami:

Ya.


Zainab Al Ghazali:

Kini aku mohon agar kau memenuhi janjimu itu. Jangan bertanya aku bertemu dengan siapa. Dan aku memohon dari Allah agar pahala jihad ini dibagi antara kita berdua bila Dia berkenan menerima baik amalku ini.

Aku menyadari bahwa memang hakmulah untuk memberikan perintah kepadaku untuk aku patuhi. Akan tetapi Allah swt dalam diriku lebih besar dari diri kita dan panggilanNya terasa lebih agung.

...

Subhanallaah
Pernikahan bukanlah akhir tujuan dakwah
Pernikahan hanyalah bagian dari deretan panjang perjalanan dakwah


 
posted by Syahida
Permalink ¤


0 Comments: