Oct 2, 2006,11:50 AM
To be a Hero
Da'wah ini hanya untuk pahlawan yang tahu medan apa yang akan dilalui

Dan strategi apa yang harus digunakan

Tak ada orang yang bisa menjadi pahlawan dalam segala hal

Pahlawan hanya menempatkan diri dimana mereka bisa menjadi pahlawan

Mereka tidak akan memaksakan kehendak

Dan tidak akan melawan kodratnya untuk meraih posisi paling mulia disisi Allah

(Anis Matta, Mencari Pahlawan Indonesia)

Ada banyak jenis pahlawan yang bisa disebutkan. Pahlawan tanpa tanda jasa alias guru, pahlawan revolusi yang berjasa pada negara atau pahlawan kesiangan yang biasanya ditujukan untuk para polisi dalam film, karena biasanya selalu datang di bagian akhir cerita jika para penjahat sudah berhasil dilumpuhkan oleh sang jagoan (maaf ya pak pol protesnya ke sutradara aja).

Bila ditinjau dari segi bahasa ada yang mengatakan bahwa pahlawan berasal dari kata "pahala" ditambah akhiran -wan yang jika digabungkan menjadi sebuah kata yang berarti orang yang berpahala karena berbuat baik. Jika membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia maka pahlawan adalah orang yang menonjol karena keberaniannya dan pengorbanannya dalam membela kebenaran, atau pejuang yang gagah berani. Sementara beberapa poin sengaja dicantumkan dalam Peraturan Presiden No 33 Tahun 1964 untuk memenuhi kriteria sebagai pahlawan, seperti sudah meningggal dunia, dan berjasa kepada negara.

Lalu bagimanakah pahlawan menurut versi kita? Apakah seperti model pahlawan dalam film-film yang dengan semangatnya yang heroik selalu tampil sebagi avant garde dalam menumpas kejahatan demi mewujudkan kebenaran? Sebutlah Rambo dengan kalung peluru dan granatnya, Kenshi Himura dengan Samurainya atau King Arthur dengan Excaliburnya. Padahal Rambo bisa jadi mudah dikalahkan tanpa peluru dan granatnya, Kensi dan King Arthur pun tidak mampu maksimal bertarung tanpa pedangnya. Artinya mereka semua membutuhkan pendukung dalam pertarungannya, karena mereka juga manusia biasa.

Satu hal inilah yang sering dilupakan, bahwa seorang pahlawan juga butuh pendukung dalam perjuangannya. Mereka tidak bisa berjuang sendirian. Mereka butuh piranti untuk memenangkan pertempuran. Tak cukup hanya senjata. Mereka butuh strategi atau taktik untuk melawan musuh. Mereka juga butuh partner yang dapat membersamainya dalam berjuang.

Seperti Rasulullah. Setiap perjuangannya selalu diiringi oleh para shahabat. Mereka tak pernah luput untuk mengawal beliau. Prinsip kebersamaan diatas segalanya. Beliau tidak pernah bergerak secara infirodhi. Pun dalam mengambil keputusan, beliau selalu mengutamakan prinsip syuro. Dan dalam bekerja, amal jama'i yang selalu beliau wacanakan. Beliau tidak pernah membesar-besarkan siapa dan berada pada posisi yang manakah mereka. Semuanya sama.

Ironis jika dibandingkan dengan fenomena yang sering ditemui saat ini. Amal jama'i sukar sekali dilihat secara kasat mata. Personalitas begitu mudah dijumpai karena mungkin orang lain akan lebih mudah menilai siapa yang paling berjasa. Prinsip syuro seakan-akan hanya sebuah lip service saja. Seringkali pula kita terjebak pada pemikiran bahwa orang paling berjasa adalah orang yang berada pada barisan paling depan, dan yang paling kelihatan geraknya. Mereka yang hanya ada di balik layar atau posisi pendukung kurang diperhitungkan keberadaannya dan mungkin seringkali tak tampak di mata.

Tak jauh beda dalam kerja-kerja da'wah. Seringkali orang yang dianggap paling berjasa adalah yang paling banyak memegang amanah, paling tinggi jam terbangnya, sampai-sampai dijuluki P6 (pergi pagi-pagi pulang petang-petang). Distribusi amanah seringkali bermuara pada beberapa orang. Dan yang diamanahipun hanya mengangguk-angguk pasrah tak berdaya sambil merutuk dalam hati saja. Tidak heran jika fenomena futur dalam da'wah semakin sering menjangkiti para aktivisnya. Rata-rata penyebabnya pun sama, "jumud" yang akhirnya berujung pada insilakh.

Seperti apa yang ditulis Anis Matta dalam "Mencari Pahlawan Indonesia" seharusnya yang namanya pahlawan itu justru orang-orang yang tahu kapasitas dirinya dan mampu bekerja maksimal dengan kapasitas tersebut. Seorang pahlawan sejati tahu kapan saat berhenti untuk menata strategi perjuangannya dan tahu kapan saat harus kembali bergerak. Bukan hanya terjebak dalam wilayah konseptual tapi juga mampu mempraksiskannya. Popularitas, pujian, decak kagum, atau penghargaan bukan semata-mata yang ia cari. Cukup keridhoan-Nya-lah saja yang ia damba. Da'wahnya hanya akan berhenti ketika maut beruluk salam kepadanya.

Yaa jundullah, mari luruskan kembali niatan kita.
Jangan mengistinbathkan makna pahlawan hanya seperti yang ada di kamus besar atau peraturan presiden saja. Popularitas di dunia hanya akan semakin menjauhkan kita dari-Nya. Biarlah hanya Allah dan Rasul, beserta orang-orang beriman yang menilai hasil karya kita. Atau semuanya hanya akan sia-sia. Wallahu musta'an

 
posted by Syahida
Permalink ยค


0 Comments: