Feb 7, 2009,9:05 AM
Ambil Juga Pahitnya
Aku tertarik dengan sebuah artikel yang aku lupa sumbernya. Kalau tidak salah artikel itu berjudul "Jangan Ambil Garamnya Saja." Artikel tersebut menggambarkan bagaimana kita melaksanakan perintah Allah yang satu tapi kemudian meninggalkan perintah yang lainnya. Penulisnya dengan cerdas menganalogikan hal tersebut seperti saat memasak rendang. Tidak mungkin hanya memasak daging tanpa garam atau tidak mungkin juga memasak masing-masing bahan kemudian baru memakannya secara bersama-sama. Tak terbayang apa rasanya, karena memang cara memasak yang tepat adalah memasukkan daging bersama dengan semua bumbunya dengan pas. Barulah tersedia rendang daging yang lezat. Demikian pula saat melaksanakan perintah Allah. Kelezatan iman tidak akan terasa oleh kita, jika kita rajin beribadah tapi sekaligus sering berbuat maksiat.
Sama halnya ketika menikah. Pernikahan adalah sebuah ikatan agung yang menyatukan dua insan yang berbeda. Dan kita sepenuhnya tahu bahwa kita dan pasangan masing-masing memiliki kekhasan, baik dari segi karakter, perilaku, pemikiran dan kebiasaan. Kekhasan yang menurut orang-orang akan menjurus pada perbedaan. Namun aku sepakat untuk menjadikan kekhasan bukan sebagai perbedaan, tetapi lebih sebagai variasi yang justru akan menimbulkan ide-ide kreatif dalam hidup berumah tangga. Bayangkan saja kalau semuanya sama….. Wah ngga’ ada tantangannya.

Tetapi, banyak orang yang seringkali terjebak pada jurang perbedaan yang akhirnya memicu konflik pada pernikahannya. Mereka mengatasnamakan perbedaan sebagai kelemahan, kekurangan, atau apalah. Ujung-ujungnya “kita cerai saja!!!!” Lalu apa sebenarnya visi awal mereka ketika menikah?

Kadang orang hanya memandang secara parsial ketika memilih pasangan. Yang penting tajir, ganteng, cantik, tinggi, putih, merah kuning, ijo (lho.. lho… kok jadi lagu balonku) mereka langsung ketok palu. “Yesss.. ini dia pasangan idamanku”. Tetapi begitu mereka menemukan perbedaan atau kekurangan pasangan, maka yang ada hanya penyesalan. Padahal kita pun tahu bahwa setiap orang punya kelebihan sekaligus kekurangan yang kesemuanya sudah menyatu dalam satu paket.
Ada juga yang hanya menikah karena hanya memikirkan yang enak-enak saja. Tidak heran jika ditanya bagaimana rasanya menikah ada yang menjawab "yang 1 persen enak yang 99 persen ueeenak tenan".... Tapi ada yang berubah setelah memasuki beberapa tahun usia pernikahan. Ada yang mengatakan "yang 1 persen indah yang 99 persen masalah." Saat mereka tidak mampu memenej konflik yang mereka dapati, maka dengan mudah komitmen mereka berguguran.

Persis seperti memasak rendang tadi, tidak bisa hanya memasak daging dan garam tanpa mengambil santan dan bahan lainnya. Atau hanya mengambil garam, sementara bahan-bahan penting lainnya ditinggalkan. Menikah adalah saat dimana aku harus siap menerima apa yang ada pada dirinya. Baik kelebihan maupun kekurangan. Tidak hanya sekedar menuntut, tapi juga harus belajar menerima. Seperti kata Asy syahid Hasan al Banna “kerjasama dalam persamaan, dan toleransi dalam perbedaan. (duh… semoga ga cuma bisa teorinya aja ya…).

Read more!  
posted by Syahida
Permalink ¤ 0 comments
Sep 23, 2008,10:02 AM
Happy Eid Mubarak

Semua perjuangan membutuhkan proses

Agar peluh dan air mata yang kita lelehkan
Dapat mengkristal menjadi permata yang indah

Taqobalallahu minna wa minkum
Shiyamana wa shiyamakum

Read more!  
posted by Syahida
Permalink ¤ 0 comments
Jul 18, 2008,10:56 AM
Yang Paling Berharga
Apa yang akan kita jawab bila ada yang bertanya "hal apakah yang paling berharga dalam hidupmu?" Ada yang memilih mengatakan hartalah yang paling berharga dalam hidupnya. Karena menurutnya, dengan harta semua hal bisa dibeli. Realisitis memang jika kita mengatakan harta sebagai hal yang berharga. Karena dijaman serba susah ini, apa-apa harus mengandalkan uang. Namun ironisnya sekarang ini, tidak hanya yang kasat mata saja, tetapi hal yang tak kasat pun bisa dibeli. Cinta, hukum, keadilan, bahkan agama pun semua bisa menjadi komoditas perdagangan yang bisa dibayar dengan uang.

Maka saya pun teringat dengan kisah Harun ar Rasyid dengan Syaqiq al Balkhi. Ketika Syaqiq tiba di Baghdad dalam perjalanannya menuju Makkah untuk berhaji, Harun ar Rasyid memanggilnya untuk menghadap. “Nasihati aku,” perintah Harun. Syaqiq al Balkhi mengatakan, “Ketika engkau kehausan di tengah padang pasir hingga engkau hampir mati, lalu datanglah seseorang dengan membawa air, berapa yang engkau rela bayarkan untuk seteguk air itu?” “Berapapun yang diminta orang itu,” jawab Harun. “Jika orang itu meminta separo kerajaanmu?” tanya Syaqiq. “Aku akan berikan,” jawab Harun. Syaqiq bertanya lagi, “Misalkan air yang engkau minum itu tidak mau keluar dari tubuhmu, membuat mu sakit hingga hampir mati, lalu datanglah seseorang yang mengatakan, ‘Aku akan menyembuhkanmu dengan imbalan separo kerajaanmu,’ apa yang akan engkau lakukan? “ “Tentu aku akan memberikannya,” jawab Harun. “Lalu, untuk apa engkau menyombongkan kerajaanmu, yang nilainya tidak lebih dari seteguk air yang engkau minum dan keluarnya ia dari tubuhmu?” tukas Syaqiq. Harun pun menangis dan melepaskan kepergian Syaqiq dengan penuh penghormatan. Yah.. ternyata nilai sebuah kerajaan tidak lebih berarti dari seteguk air.

Banyak hal yang sebenarnya berharga dalam hidup kita namun jarang kita sadari. Kesehatan misalnya. Kelihatannya sepele, namun saat kita sakit dan tak kunjung sembuh baru kita sadari betapa mahalnya harga kesehatan. Apapun akan kita lakukan untuk sembuh. Sebenarnya Rasulllah sudah memperingatkan: "Ada dua ni'mat yang dilalaikan oleh manusia, manusia tertipu dengan nikmat tersebut: yaitu nikmat sehat dan waktu kosong." (HR. al-Hakim yang telah dishahihkan Syaikh al-Albani dalam kitab Al-Jami'), namun memang begitulah watak manusia. Senada dengan lirik nasyid milik Saujana “apa yang ada jarang disyukuri.”

Ataupun ilmu misalnya. Berbahagialah orang yang mengatakan ilmulah yang berharga dalam hidupnya karena ilmu adalah sarana yang sangat penting bagi manusia untuk beraktifitas hidup di dunia. Ada pepatah yang mengatakan “People without science is like body without skeleteon, and mind without soul.” Oleh karena itu ilmu adalah sebuah keniscayaan bagi manusia.

Begitu pun halnya bagi setiap muslim. Ilmu adalah sesuatu yang sangat berharga. Di dalam Al Muwaththo -karya Imam Malik- disebutkan : Lukman berkata kepada anaknya : "Wahai anakku duduklah kamu bersama para ulama dan dekatilah mereka dengan kedua lututmu (bergaul dengan mereka), maka sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta`ala menghidupkan hati-hati yang mati dengan cahaya hikmah sebagaimana menghidupkan (menyuburkan) bumi dengan hujan yang deras." (Kitab Al Ilmu Fadluhu wa Syarfuhu hal 228). Ada pula orang-orang arif yang mengatakan "Bukankah orang yang sakit akan mati tatkala tercegah dari makanan , minuman dan obat-obatan?" Maka dijawab: "Tentu saja," Mereka mengatakan: "Demikian pula halnya dengan hati jika terhalang dari ilmu dan hikmah maka akan mati."Demikianlah kedudukan ilmu bagi setiap muslim. Dengan ilmu jiwa-jiwanya akan hidup dan sebaliknya jiwa-jiwa mereka akan mati apabila tidak dibekali dengan ilmu.

Kemudian jika ada yang mengatakan bahwa waktu adalah hal berharga dalam hidupnya, maka patut pulalah mereka berbahagia. Karena waktu adalah nikmat sekaligus harta paling berharga yang dititipkan Allah SWT kepada manusia. Demikian berharganya waktu, hingga ada yang mengatakan waktu adalah kehidupan.
Berkenaan dengan masalah waktu, Imam Hasan Al-Basri mengatakan, "Berhati-hatilah kamu dari menunda pekerjaan, karena kamu berada pada hari ini bukan pada esok hari. Kalaulah esok hari menjadi milikmu, maka jadilah kamu seperti pada hari ini. Kalau esok tidak menjadi milikmu, niscaya kamu tidak akan menyesali apa yang telah berlalu dari hari-harimu". Kemudian ada juga kisah berharga dari seseorang yang meminta nasihat tentang waktu kepada seorang laki-laki dari Bani Abdi Al-Qais. Beliau hanya mengatakan dengan singkat, "Waspadalah dari menyebut kata 'nanti', karena ia adalah salah satu dari tentara iblis."

Begitupentingnya waktu, sehingga Allah SWT pun sering bersumpah dengan waktu, seperti waktu malam, waktu Dhuha, waktu Ashar. Bahkan di dalam Surat al-Ashr, Allah SWT menyebutkan sifat-sifat orang yang beruntung, yaitu mereka yang mampu menjaga waktunya dengan beriman dan beramal shaleh.

Jika ada pula yang mengatakan cinta dan kasih sayang adalah sesuatu yang berharga dalam hidupnya, maka ia pun patut berbahagia. Terlebih lagi jika cintanya bermuara hanya kepada Maha Pemilik Cinta Sejati. Seperti yang dikatakan Rabiah al Adawiyah, “kasih sayang itu adalah mutiara paling berharga bagi manusia, jika saja manusia itu mengetahui rahasia di baliknya. Bila cinta didasarkan pada iman kepada Rabb sang Pemilik Cinta Hakiki, maka ketenteraman jiwa dan kemuliaan akan hadir dalam relung dan tiap nafas kita."

Dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda: “Pada hari kiamat Allah berfirman: Dimanakah orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku? Pada hari yang tiada naungan selain naungan-Ku ini, Aku menaungi mereka dengan naungan-Ku.” (HR. Muslim). Bahkan Allah memuliakan mereka yang saling mencintai dan bersahabat karena Allah, yang membuat para nabi dan syuhada merasa iri terhadap mereka mereka. Dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah ra pula, Rasulullah bersabda: “Di sekeliling Arsy, terdapat mimbar-mimbar dari cahaya yang ditempati oleh suatu kaum yang berpakaian dan berwajah cahaya pula. Mereka bukanlah para nabi atau syuhada, tetapi para nabi dan syuhada merasa iri terhadap mereka. Para sahabat bertanya, wahai Rasulullah, beritahulah kami tentang mereka! Beliau bersabda, Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai, bersahabat, dan saling mengunjungi karena Allah."

Itulah potret orang-orang yang patut berbahagia karena begitu bijaksana memilih sesuatu yang berharga dalam hidupnya. Lalu bagaimana dengan kita?

dari berbagai sumber

Read more!  
posted by Syahida
Permalink ¤ 0 comments
May 26, 2008,12:00 AM
Ideal Bagus…. Tapi Realistis Lebih Mak Nyuss...
Ketika berita pernikahanku mulai sampai ke telinga teman-teman, hampir pertanyaan senada mereka lontarkan padaku. “Yakin mau nikah sama dia? Kamu kan belum kenal banget. Apa sih yang membuat kamu pilih dia?” Wajar sekali ketika pertanyaan-pertanyaan tersebut mereka tanyakan padaku. Karena sebelumnya aku memang belum betul-betul mengenal siapa calon suamiku itu.

“Cuma lewat beberapa lembar biodata dan sekali ketemu (ta’aruf) kamu yakin serius sama dia?” Begitu komentar mereka ketika kujelaskan proses nikahku. Kalo mengikuti jalan pemikiran mereka, iya juga sih. Bisa-bisanya cuma lewat biodata plus foto dan sekali ta’aruf langsung yess!!!! Yah… kalo ga berangkat dari rasa percaya pada petunjuk Yang Diatas rasanya memang impossible memutuskan nikah dengan orang yang belum pernah kita kenal atau minimal berinteraksi sebelumnya.

“Terus dia sesuai dengan kriteria kamu nggak?” Pertanyaan itu yang selanjutnya mereka lontarkan. Kalo bicara kriteria, memang semua orang masing-masing punya gambaran pasangan idealnya yang seringkali menuntut kesempurnaan dari segala sisi.

Tapi memang sebuah sunatullah, tidak ada hal yang sempurna di dunia ini. Kadang ada yang punya kelebihan di satu sisi, sementara lemah di sisi yang lain. Kaya tapi malas ibadah, ganteng tapi pencopet dll. Tetapi bukan karena tidak ada yang sempurna akhirnya memilih yang seadanya. Bukan… Bukan itu, tapi REALISTIS. Itulah intinya

Aku coba berfikir realistis bahwa setiap orang punya kelebihan sekaligus kekurangan. Hal itu adalah satu paket yang tidak mungkin dipisahkan. Nah melalui pernikahan itulah aku harus belajar untuk menerima segala yang ada pada suamiku. Itulah yang disebut KESEMPURNAAN, menurut sebuah artikel yang kubaca.

Kemudian ada satu pertanyaan terakhir yang mereka berikan padaku. “Menurut kamu, apakah dia yang terbaik buat kamu?” Ups………… akhirnya ditanyain juga. Dengan mengutip kata-kata seorang aktor di sebuah film aku menjawab dengan yakin, “Mungkin dia bukan yang terbaik, tapi aku sudah memutuskan dia adalah yang terbaik untukku, Insya Allah.”

Peluh yang menitik, pikiran yang terkuras, nafas yang tersengal, hati yang perih atas perjuangan ini, semoga akan selalu berbalut ikhlas dan berhias sabar hingga tak terbatas


Read more!  
posted by Syahida
Permalink ¤ 0 comments
Feb 23, 2008,10:31 AM
Ekspedisi Lawu
“Sekadar aku keluar dari rumah dan apa yang tertangkap oleh mataku, pasti aku melihat bahwa ada nikmat Allah atasku dari apa yang ku lihat. Dan dari sana aku memetik pelajaran untukku” (Abu Sulaiman Ad Darani seorang shalih dari generasi Tabiin). Maka, kami bulatkan tekad untuk menjelajahi Lawu untuk mentafakuri keagungan Allah yang telah menciptakan fenomena alam yang begitu dahsyat dan indah ini.

Tasbih tak henti-henti demi melihat hamparan yang ada di depan kami. Memang benar “sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi”. (Ali Imran:190-191).

Subhanallah begitu cermat Allah menciptakan gunung sebagai pasak-pasak bumi (Q.S. An-Naba 78: 6-7). Jadi bayangkan saja ketika tidak ada gunung sebagai pasak bumi, sama halnya ketika mendirikan tenda tanpa pasak. Apa yang terjadi? Sudah pasti roboh ketika ada angin yang meniupnya. Begitu pula bumi, tidak akan kokoh tanpa gunung sebagai pasaknya. Benar-benar tidak ada satu kesia-siaan ketika Allah menciptakan sesuatu, walau kadang manusia merutuki keberadaannya sebagai pembawa bencana.

Pasak bumi yang menjulang tinggi ini membuat kami merinding. Serasa menjadi sosok-sosok kerdil yang kerap takabur, ujub dan riya’ dengan segala predikat yang melekat pada diri ini. Ini baru gunung yang besarnya belum seberapa dibanding isi jagat raya yang lain. Lihat saja ukuran matahari yang jauh lebih besar satu juta 200 kali dari ukuran bumi. Maka seperberapakah kita dibanding besarnya? Masih cukup besarkah untuk mempertahankan kesombongan kita yang selalu merasa lebih dari yang lain?


Read more!  
posted by Syahida
Permalink ¤ 0 comments
Jan 8, 2008,10:31 AM
Sejenak
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? (2)
Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (3)
Ataukah orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu mengira bahwa mereka akan luput (dari azab) Kami? Amatlah buruk apa yang mereka tetapkan itu. (4)
Barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu, pasti datang. Dan Dialah Yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui. (5)
Dan barangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. (6)
Dan orang-orang yang beriman dan beramal saleh, benar-benar akan Kami hapuskan dari mereka dosa-dosa mereka dan benar-benar akan Kami beri mereka balasan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan. (7)
Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh benar-benar akan Kami masukkan mereka ke dalam (golongan) orang-orang yang saleh. (9)
Dan di antara manusia ada orang yang berkata: "Kami beriman kepada Allah", maka apabila ia disakiti (karena ia beriman) kepada Allah, ia menganggap fitnah manusia itu sebagai azab Allah. Dan sungguh jika datang pertolongan dari Tuhanmu, mereka pasti akan berkata: "Sesungguhnya kami adalah besertamu." Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada semua manusia? (10)
Dan sesungguhnya Allah benar-benar mengetahui orang-orang yang beriman: dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang munafik. (11)
QS. Al 'Ankabuut

jangan pernah ada dusta mencintai Allah

Read more!  
posted by Syahida
Permalink ¤ 0 comments
May 10, 2007,12:48 PM
Berkejaran dengan waktu
Setiap orang yang hidup menempati dunia yang sama dan mempunyai jatah waktu yang sama, entah dia seorang ahli surga atau neraka, orang sukses atau gagal, kaya atau miskin. Sama-sama hanya mempunyai jatah 24 jam setiap harinya. Tetapi satu hal yang membuatnya berbeda adalah bagaimana penghargaan masing-masing terhadap waktu dan bagaimana cara memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya.

Contoh kecil, ketika akan diadakan acara di suatu tempat, sambil menunggu pembicara datang, ada yang berdzikir, ada yang tilawah, ada yang melamun sambil terkantuk-kantuk, dan ada juga yang ngobrol. Jumlah waktu yang dihabiskan sama, tapi hasilnya jauh berbeda.

Rasulullah SAW pernah mengatakan rata-rata umur manusia sekitar 60 tahun. Kemudian Imam Ghazali mengatakan kalau manusia yang umurnya 60 tahun dan memiliki waktu tidur selama 8 jam/hari maka sesungguhnya dia hidup cuma 40 tahun saja, karena 1/3 alias 20 tahun waktunya sudah hilang untuk tidur. Itulah kebanyakan manusia. Waktu yang tidak mungkin bisa diulang, hanya dihabiskan untuk memenuhi kesenangannya saja.

Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW mengatakan: sebaik-baik manusia adalah orang yang panjang usianya dan bagus amal perbuatannya. Seburuk-buruk manusia adalah orang yang panjang usianya dan buruk amal perbuatannya. (HR Ahmad). Bayangkan jika jenis manusia yang kedua itu adalah kita. Maka bekal apakah yang akan kita bawa untuk dihisab di akhirat kelak?

Belum hilang dari ingatan kita tentang musibah yang belakangan ini terjadi secara tiba-tiba. Bukan suatu hal mustahil ketika gempa atau banjir datang, pada saat itu juga Allah berkehendak mencabut nyawa kita. Maka akankah kita berakhir dalam keadaan khusnul khotimah atau su’ul khotimah? Sementara kita tidak tahu apakah saat itu kita sedang melakukan kebaikan ataukah kemaksiatan. Padahal Rasulullah telah bersabda: "Setiap orang akan mati seperti dalam keadaan hidupnya dan akan dibangkitkan seperti dalam keadaan matinya" (HR Muslim)

Benar-benar tak ada yang bisa memprediksi kapan maut datang menjemput, karena maut tak ubahnya seperti tamu yang tak diundang. Datang begitu saja tanpa memberi kabar. Tak ada proses tawar menawar atau tarik ulur. Begitu sang penjemput jiwa datang, tak ada hal yang bisa diperbuat. Raga meregang, nyawa pun terbang.

Tapi sepertinya memang sudah menjadi watak khas manusia. Musibah datang, taubat massal pun ramai-ramai digelar. Musibah lewat, taubat pun disimpan rapat-rapat (mungkin untuk persediaan kalau ada musibah susulan). Kita kembali disibukkan oleh urusan duniawi. Karena kita sudah sedemikian mahfum bagaimana cara menghabiskan waktu dengan kesibukan ala hedonisme dan konsumerisme sebagai anak kandung peradaban materi yang makin tidak manusiawi.

Tampaknya kita terlalu lupa bahwa hidup berkejaran dengan waktu. Terlalu lupa kalau hidup adalah waktu itu sendiri. Bukankah Allah telah berulangkali bersumpah di dalam al-Qur'an atas nama waktu: wal Ashr (demi masa), wadh dhuha (demi dhuha), wal laili (demi malam), wan nahaar (demi siang). Karena memang waktu memegang peranan penting dalam perjalanan hidup makhluk seperti kita ini. Benar-benar sangat merugi manusia kecuali mereka yang beramal shalih dan saling menasehati dalam kebenaran dan kebaikan.

Rasanya kita bukan siapa-siapa dibanding generasi awal dulu. Waktu mereka lewat tanpa sedikitpun kesia-siaan. Rasulullah yang dijamin diampuni kesalahnnya yang terdahulu dan akan datang saja masih terus bersujud meratap di sepertiga malamnya sampai kakinya bengkak-bengkak. Sholahuddin Al Ayyubi tak pernah tertawa karena Palestina belum terbebaskan. “Sesungguhnya orang-orang shalih dapat menghela nafas dirinya kepada kebaikan secara suka rela, sementara kita tidak dapat menghela diri kita kecuali setelah memaksanya” (Ibnul Mubarak).

Bisa jadi kita mulai menjadi generasi-generasi kapitalis yang ingin mendapatkan output yang sebesar-besarnya, dengan input yang seminimal mungkin. Menginginkan masuk surga dengan pegorbanan yang sedikit, dengan amalan yang yang tidak seberapa dan keikhlasan yang serba pas-pasan. Rasulullah
bersabda, "Generasi awal sukses karena zuhud dan teguhnya keyakinan, sedang ummat terakhir hancur karena kikir dan banyak berangan muluk kepada Allah." Wallahu a'lam

Renungan jelang milad





Read more!  
posted by Syahida
Permalink ¤ 4 comments